BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Secara Naluriah, Kodrati, Fitrohnya Manusia adalah makhluk social
memerlukan orang lain dalam kehidupannya tanpa sesamanya manusia tidak akan
bisa hidup. Pada
mulanya manusia berada dalam satu lingkungan social yang kecil adam dan hawa,
semakin berkembangnya umat manusia menyebar kemana-mana dengan kondisi fisik
yang berbeda pula. dari uraian diatas diketahui memberikan diskripsi manusia
secara sistematis bahwa manusia berada dan berhubungan dengan sesamanya dalam
pola- pola tertentu sebagai individu yang berhubungan dengan individu lain,
yang berhubungan dengan kelompok; masyarakat, politik, social.
konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan
orang lain. konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap,
dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi interpersonal,
teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu
seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan
menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu kita disini akan membahas tentang mengetahui jenis-jenis
bimbingan dalam penyuluhan, sifat-sifat bimbingan konseling itu sendiri juga
jenis-jenis dan sumber masalah yang dihadapi individu, agar kita dapat
mengetahui masalah –masalah yang dihadapi oleh peserta didik (siswa).
- Rumusan Masalah
1.
Apa saja jenis bimbingan dan konseling?
2.
Bagaimana sifat bimbingan dan konseling?
3.
Apa saja jenis layanan dalam bimbingan konseling?
4.
Apa Jenis masalah yang dihadapi siswa?
5.
Apakah yang menjadi sumber masalah?
- Tujuan
1.
Agar pembaca dapat mengetahui jenis-jenis bimbingan dan konseling
2.
Agar pembaca dapat mengetahui sifat bimbingan dan konseling
3.
Agar pembaca dapat mengetahui jenis-jenis layanan dalam bimbingan
konseling
4.
Agar pembaca dapat mengetahui berbagai jenis masalah yang dihadapi siswa
5.
Agar pembaca dapat mengetahui sumber masalah dalam bimbingan konseling
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Jenis Bimbingan dan Konseling
1. Dilihat dari suatu permasalahannya ada
tiga jenis bimbingan dan konseling yaitu:
a. Bimbingan Akademik/Belajar
W.S.
Winkel SJ. Menyatakan bahwa bimbingan belajar adalah bimbingan dalam menemukan
cara yang tepat untuk mengatasi kesukaran-kesukaran dalam belajar. Adapun yang
termasuk masalah-masalah akademik/belajar, yaitu: pengenalan kurikulum,
pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan
latihan, pencarian sumber belajar, perencanaan pendidikan lanjutan, dan
lain-lain. [1]
Bimbingan
akademik/belajar dilakukan dengan cara mengembangkan atau menciptakan suasana
belajar-mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar. Para
pembimbing membantu individu mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan cara
belajar yang efektif, membantu individu agar sukses dalam belajar dan mampu
menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan. Dalam bimbingan
akademik/belajar, para pembimbing berupaya memfasilitasi individu dalam
mencapai tujuan akademik yang diharapkan.[2]
b. Bimbingan sosial pribadi
Bimbingan
sosial pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para peserta didik dalam
menyelesaikan masalah-masalah sosial pribadi. Adapun yang tergolong dalam
masalah-masalah sosial-pribadi adalah masalah hubungan sesama teman, dosen,
pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan
pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, serta penyelesaian konflik. [3]
Bimbingan
sosial-pribadi diarahkan untuk memantapkan kepribadiannya dan mengembangkan
kemampuan peserta didik dalam menangani masalah-masalah yang peserta didik
hadapi. Dan juga mengarahkan pada pencapaian pribadi yang seimbang dengan
memperhatikan karakteristik pribadi serta ragam permasalahan yang dialami oleh
peserta didik.[4]
Bimbingan
ini diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi
pendidikan yang akrab, mengembangkan sistem pemahaman diri, dan sikap-sikap
yang positif, serta keterampilan-keterampilan sosial-pribadi yang tepat.[5]
c. Bimbingan karier
Bimbingan
karier yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan, pengembangan
dan penyelesaian masalah-masalah karier, seperti pemahaman terhadap jabatan dan
tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi
lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan dan
penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi.[6]
Bimbingan
karier merupakan upaya bantuan terhadap individu agar dapat mengenal dan
memahami dirinya, mengenal dunia kerjanya dan mengembangkan masa depannya yang
sesuai dengan bentuk kehidupannya yang diharapkan. Lebih lanjut dengan layanan
bimbingan karier, individu mampu menentukan dan mengambil keputusan secara
tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya sehingga mampu
mewujudkan dirinya secara bermakna.[7]
d. Bimbingan Keluarga
Bimbingan
keluarga merupakan upaya pemberian bantuan terhadap para individu sebagai
pemimpin/anggota keluara agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan
harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan
menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan/berpartisipasi aktif
dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.[8]
Bimbingan
keluarga membantu individu memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota
keluarga sehingga individu siap memahami kehidupan berkeluarga. Serta membantu
anggota keluarga dengan berbagai strategi dan teknik berkeluarga yang sukses,
harmonis dan bahagia.[9]
2. Dilihat pada jumlah orang (individu)
yang akan diberikan pelayanan bantuan ada dua yaitu: [10]
a. Bimbingan dan konseling individual atau
bimbingan dan konseling perseorangan (individuan counseling atau individual
guidance). Bimbingan ini biasanya dilakukan melalui wawancara konseling atau
dapat juga dilakukan diluar wawancara konseling.
b. Bimbingan dan konseling kelompok (group
guidance atau group counseling), baik kelompok tersebut kecil maupun besar.
3. Dilihat dari segi waktu penanganan,
yakni proses pemecahan masalah individu dimana diperlukan waktu yang sesegera
mungkin atau bisa ditunda beberapa waktu lagi terbagi menjadi empat tipe yakni: [11]
a. Bimbingan dan Konseling Krisis
Kata
krisis diartikan sebagai keadaan darurat dimana klien sedang menghadapi
frustasi(kegagalan) dalam mencapai suatu keinginan yang sangan berarti dalam
hidupnya atau sedang mengalami gangguan dalam perjalanan hidupnya yang
ditanggapi dengan perasaan stres. Masalah tersebut memerlukan respon-respon
khusus.
Kegiatan-kegiatan
dalam mengatasi situasi krisis ini adalah intervensi langsung, dukungan dalam
kadar tinggi (motivasi tinggi) atau referal kepada lembaga lain yang berwenang.
b. Bimbingan dan Konseling Fasilitatif
Fasilitatif
maksudnya suatu proses pemberian bantuan agar permasalahn klien menjadi lebih
jelas. Bantuan bisa berupa bentuk pemahaman penerimaan diri, kemudian membuat
rencana kegiatan dalam mengatasi masalah dan akhirnya melaksanakannya atas
dasar kemauannya sendiri.
Bimbingan
konseling fasilitatif ini sering disebut dengan istilah remidial atau
adjustive, yakni memberikan gambaran bahwa seseorang disembuhkan karena
berperilaku salah dan tidak dikehendaki sehingga membantu individu agar lebih
maju dan bermanfaat dari kondisi sebelumnya.
c. Bimbingan dan Konseling Preventive
Bimbingan
dan konseling Preventive bersifat khusus dalam bentuk program-program khusus.
Misal program pendidikan seks di sekolah-sekolah dengan maksud mencegah
terjadinya kecemasan pada masa yang akan datang yang berkaitan dengan masalah
seksualitas.
Bimbingan
dan konseling Preventive ini dapat dilalukan melalui pemberian informasi yang
bermanfaat bagi perkembangan hidupnya, melakukan referal ke program-program
yang lebih sesuai dengan kapasitas kemampuannya dan juga konseling individual
berdasarkan isi dan proses programnya.
d. Bimbingan dan Konseling Developmental
Bimbingan
dan konseling Developmental merupakan proses berkelanjutan yang dilakukan dalam
seluruh jangka kehidupan individu. Hal ini memfokuskan pada membantu klien
untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif dalam berbagai
tahap perkembangannya.
B. Sifat Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling
mengemban sejumlah sifat yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan
bimbingan dan konseling. Sifat-sifat tersebut adalah[12]:
1. Pencegahan/preventif
Yaitu
sifat bimbingan dan konseling yang menghasilkan tercegahnya dari berbagai
permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat
ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses
perkembangannya. Selain itu membekali individu agar lebih siap menghadapi
tantangan-tantangan di masa mendatang.
2. Penyembuhah/korektif (curative)
Yaitu
sifat bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teratasinya berbagai
permasalahan yang dialami. Bimbingan dan konseling ini membantu individu dalam
mengkoreksi terhadap perkembangan yang mengalami salah prosedur dan
mengembalikan pada posisi yang seharusnya.
3. Perbaikan / perseveratif atau
developmental
Yaitu
sifat bimbingan dan konseling untuk memperbaiki kondisi individu dari
permasalahan yang dihadapinya sehingga bisa mencapai tingkat perkembangan optimal.
4. Pemeliharaan
Yaitu
sifat bimbingan konseling untuk menjaga terpeliharanya kondisi individu yang
sudah baik tetap baik.
5. Pengembangan
Yaitu
mengembangkan berbagai potensi dan kondisi positif individu dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan
berkelanjutan.
C. Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling
maksudnya bentuk-bentuk kegiatan atau tindakan yang disusun dan dirancang oleh
petugas bimbingan atau konseling yang diperuntukkan bagi individu-individu
dalam rangka memberi bantuan kepada mereka. Adapun layanan-layanannya sebagai
berikut: [13]
1. Layanan pengumpulan data
Dalam
layanan ini semua data tentang individu beserta latar belakangnya dihimpun dan
didokumentasikan. Data dihimpun dari berbagai sumber dengan menggunakan angket,
wawancara, observasi dan tes.
Data
yang dihimpun diantaranya data pribadi, keluarga, sosial, budaya, agama, status
ekonomi, prestasi, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan
spiritual, ketekunan, kerajina dan sebagainya.
Tujuan
dari layanan ini adalah mengumpulkan informasi mengenai individu yang akan
mendapatkan bantuan bimbingan atau konseling dalam memahami diri, menerima diri
serta lingkungannya untuk pengambilan keputusan yang bermanfaat bagi
kehidupannya.
2. Layanan informasi
Layanan
informasi ini dirancang dan diberikan kepada individu untuk membantunya dalam
mengenali lingkungan, terutama mengenai kesempatan-kesempatan yang ada dan
dapat dimanfaatkan baik pada saat ini maupun masa yang akan datang.
Ada tiga macam alasan
diberikannyalayanan informasi ini:
a. Merupakan landasan dasar apabila
individu akan diperlengkapi pengetahuan sebagai dasar yang diperlukan untuk
memikirkan secara mendalam tentang pokok-pokok persoalan pribadi yang penting.
b. Merupakan landasan dasar yang dipakai
sebagai acuan untuk merancang dan mengatur tindakan-tindakan apa yang
seharusnya ia lakukan atas dasar informasi yang diketahuinya itu.
c. Merupakan landasan dasar bagi individu
dalam mengeksplorasi dan menyadari kemungkinan-kemungkinan mengadakan
stabilitas atau perubahan karakteristik perkembangannya.
3. Layanan penempatan
Layanan
penempatan merupakan layanan untuk membantu individu dalam memperoleh tempat
bagi pengembangan potensi yang dimilikinya. Layanan ini bertujuan agar setiap
individu dapat mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensi dan kekuatan
yang dimilikinya. Diharapkan setiap individu menempati atau mengikuti kelompok
kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan segala kemampuan pribadinya. [14]
4. Layanan konseling
Layanan
konseling merupakan layanan untuk membantu individu menyelesaikan
masalah-masalah, terutama masalah sosial-pribadi yang mereka hadapi. Layanan
konseling ini dilakukan melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara
konselor dan konseli.[15]
5. Layanan referal
Layanan
referal merupakan layanan untuk melimpahkan masalah yang dihadapi individu
kepada pihak lain yang lebih mampu dan berwenan, apabila masalah yang ditangani
pembimbing dari luar kemampuan dan kewenangan personal pemberi bantuan yang
ada.[16]
6. Layanan evaluasi dan tindak lanjut
Layanan
ini dirancang untuk mempertinggi perkembangan individu dengan jalan membantunya
memilih dan memanfaatkan kesempatan yang ada.
Layanan ini menyangkut evaluasi proses atau evaluasi hasil pelaksanaan
bimbingan. Evaluasi proses menilai sejauh mana keterlaksanaan program bimbingan
dan konseling itu didukung atau tidak oleh komponen-komponen yang terkait
dengan sumber pelaksana, biaya, fasilitas dan manajemen. Sedangkan evaluasi
hasil menilai sejauh mana pelaksanaan bimbingan itu efektif memenuhi harapan
berbagai pihak, guru, kepala sekolah, peserta didik, wali kelas, orang tua dan
anggota masyarakat.
Adapun
tujuannya adalah untuk mengurangi seminim mungkin terjadinya
kesalahan-kesalahan dalam memilih dan merencanakan beberapa karier dan
alternatifnya.[17]
Tindak
lanjut merupakan prosedur penyaluran dalam rangka menentukan apakah individu
mampu berkembang atau tidak dalam penempatan. Kondisi ini individu dibatu untuk
memahami apa yang diperlukan untuk menilai perkembangan pribadi yang terkait
dengan tujuan jangka pendek, menengan maupun jangka panjang.[18]
7.
Layanan Konseling Perorangan[19]
a.
Makna layanan konseling perorangan
Layanan konseling perorangan bermakna layanan
konseling yang diselenggarakan oleh seorang pembimbing (konselor) terhadap
seorang klien pribadi. Konseling perorangan berlangsung dalam suasana
komunikasi tatap muka secara langsung antara konselor dengan klien (siswa) yang
membahas berbagai masalah yang dialami klien. Bersifat spesifik menuju ke arah
pemecahan masalah. Melalui konseling perorangan, klien akan memahami kondisi
dirinya sendiri, lingkunganya, permasalahan yang dialami, kekuatan dan
kelemahan dirinya, serta kemungkinan upaya untuk mengatasi masalahnya.[20]
b.
Tujuan layanan konseling perorangan
Tujuan konseling perorangan adalah agar klien memahami
kondisi dirinya sendiri, lingkunganya, permasalahan yang dialami, kekuatan dan
kelemahan dirinya sehingga permasalahan klien dapat diatasi. Dengan perkataan
lain, konseling perorangan bertujuan untuk mengentaskan masalah yang dialami
klien.[21]
Secara
lebih khusus, tujuan layanan konseling perorangan adalah merujuk pada
fungsi-fungsi bimbingan dan konseling yaitu yang pertama merujuk pada fungsi
pemahaman, maka tujuan layanan konseling adalah agar klien memahami seluk-beluk
yang dialami secara mendalam. Kedua,
merujuk pada fungsi pengentasan, maka layanan konseling perorangan bertujuan
untuk mengentaskan klien dari masalah yang dihadapinya. Ketiga, dilihat dari
fungsi pengembangan dan pemeliharaan, tujuan layanan konseling perorangan
adalah untuk mengembangkan potensi-potensi individu dan memelihara unsur-unsur
positif yang ada pada diri klien.
c.
Isi layanan konseling perorangan
Isi layanan konseling perorangan tidak ditentukan oleh
konselor sebelum proses konseling dilaksanakan. Persoalan atau masalah
sesungguhnya baru dapat diketahui setelah dilakukan identifikasi melalui proses
konseling. Setelah dilakukan identifikasi baru ditetapkan masalah yang akan
dicarikan alternative pemecahanya melalui proses konseling dengan berpegang
pada prinsip skala prioritas pemecahan masalah.[22]
d.
Kegiatan pendukung layanan konseling perorangan
Sebagaimana layanan-layanan yang lain, layanan
konseling perorangan juga memerlukan kegiatan pendukung. Diantaranya :[23]
1)
Aplikasi instrumentasi. Baik berupa tes maupun non tes
dapat digunakan dalam proses konseling perorangan diantaranya hasil tes, hasil
ujian, hasil AUM (Alat Ungkap Masalah), angket, dan lain sebagainya dapat
dijadikan dasar pemberian bantuan atau layanan kepada individu.
2)
Himpunan data. Seperti halnya hasil instrumentasi, data
yang tercantum dalam himpunan data selain dapat digunakan sebagai pertimbangan
untuk memanggil siswa juga dapat dijadikan konten yang diwacanakan dalam
layanan bimbingan konseling perorangan, selanjutnya data hasil layanan harus
dihimpun dalam himpunan data.
3)
Konferensi kasus. Konferensi kasus bertujuan untuk
memperoleh data tambahan tentang klien dan untuk memperoleh dukungan serta
kerja sama dari berbagai pihak terutama yang diundang dalam mengentaskan
masalah klien. Tetapi rahasia pribadi klien harus tetap dijaga ketat.
4)
Kunjungan rumah. Seperti halnya konferensi kasus, kunjungan rumah juga
bertujuan untuk memperoleh data tambahan tentang klien. Selain itu juga untuk
memperoleh dukungan dan kerja sama dari orang tua dalam mengetaskan masalah
klien.
5)
Alih tangan kasus. Tidak semua maslah yang dialami
klien menjadi wewenang konselor (pembimbing) untuk menanganinya. Ada beberapa
kasus yang harus di alih tangan ke pihak lain yang lebih mengetahui.
e.
Pelaksanaan layanan konseling perorangan[24]
1)
Perencanaan yang meliputi
kegiatan:
a)
Mengidentifikasi klien
b)
Mengempersatur waktu pertemuan
c)
Mempersiapkan tempat dan perangkat teknis penyelenggaraan layanan
d)
Menetapkan fasilitas layanan
e)
Menyiapkan kelengkapan administrasi
2)
Pelaksanaan yang meliputi kegiatan:
a)
Menerima klien
b)
Menyelenggarakan penstrukturan
c)
Membahas masalah klien dengan menggunakan teknik-teknik
d)
Memantapkan komitmen klien dalam pengentasan masalahnya
e)
Melakukan penilaian segera
3)
Melakukan evaluasi jangka pendek
4)
Menganalisis hasil evaluasi
5)
Tindak lanjut yang meliputi kegiatan:
a)
Mengomunikasikan rencana tina rndak lanjut kepada pihak-pihak terkait
b)
Melaksanakan rencana tindak lanjut
6)
Laporan yang meliputi kegiatan :
a)
Menyusun laporan layanan konseling perorangan
b)
Menyampaikan laporan kepada kepala sekolah atau madrasah dan pihak lain
terkait
c)
Mendokumentasikan laporan
8. Layanan Konseling Kelompok[25]
a.
Makna
Layanan Konseling Kelompok
Layanan
konseling kelompok mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok dengan
konselor sebagai pemimpin kegiatan kelompok. Layanan konseling kelompok
mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi
pengembangan pribadi dan pemecahan masalah individu (siswa) yang menjadi
peserta layanan . dalam konseling kelompok dibahas masalah pribadi yang dialami
oleh masing-masing anggota kelompok . berdasarkan deskripsi di atas, layanan
konseling kelompok dapat dimaknai sebagai suatu upaya pembimbing atau konselor
membantu memecahkan masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing
anggota kelompok melalui kegiatan kelompok agar tercapai perkembangan yang optimal.[26]
Sebagaimana
halnya bimbingan kelompok, konseling kelompok
pun harus dipimpin oleh seorang pembimbing (konselor) terlatih dan
berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional. Dalam konseling
kelompok, tugas pemimpin kelompok adalah:[27]
1)
Membentuk
kelompok yang terdiri atas 8-10 orang sehingga terpenuhi syarat-syarat kelompok
yang mampusecara aktif mengembangkan dinamika kelompok, yaitu:
a)
Terjadinya
hubungan antara anggota kelompok menuju keakraban di antara mereka
b)
Tumbuhnya
tujuan bersama di antara anggota kelompok dalam suasana keakraban
c)
Berkembangnya
iktikad dan tujuan bersama untuk mencapai tujuan kelompok
d)
Terbinanaya
kemandirian pada setiap anggota kelompok, sehingga mereka masing-masing mampu
berbicara
e)
Terbina
kemandirian kelompok sehingga kelompok berusaha dan mampu tampil beda dari
kelompok lainnya
2)
Melakukan
penstrukturan, yaitu membahas bersama anggota kelompok tentang apa, mengapa,
dan bagaimana layanan konseling kelompok dilaksanakan
3)
Melakukan
pentahapan kegiatan konseling kelompok dilaksanaan
4)
Memberikan
penilaian segera hasil layanan konseling kelompok
b.
Tujuan
Layanan Konseling Kelompok
Secara
umum tujuan layanan konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan
sosialisasi siswa, khususnya kemampuan berkomunikasinya. Melalui layanan konseling
kelompok juga dapat dientaskan masalah klien (siswa) dengan memanfaatkan
dinamika kelompok.[28]
c.
Isi
Layanan Kelompok
Layana
konseling kelompok membahas masalah-masalah pribadi yang dialami oleh
masing-masing anggota kelompok. Secara bergiliran anggota kelompok mengemukakan
masalah pribadinya secara bebas, selanjutnya dipilih mana yang akan dibahas dan
dientaskan terlebih dahulu dan seterusnya.[29]
d.
Pelaksanaan
Layanan Konseling Kelompok
Sebagaimana
layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok juga menempuh
tahap-tahap sebagai berikut :[30]
1)
Perencanaan
yang mencakup kegiatan :
a) Membentuk kelompok
b) Mengidentifikasi dan meyakinkan klien
(siswa) tentang perlunya masalah dibawah ke dalam layanan konseling kelompok
c) Menyusun jadwal kegiatan
d) Menetapkan prosedur layanan
e) Menetapkan fasilitas layanan
f) Menyiapkan kelengkapan administrasi
2)
Pelaksanaan
yang mencakup kegiatan
a) Mengomunikasikan rencana layanan
konseling kelompok
b) Mengorganisasikan kegiatan layanan
konseling kelompok
c) Menyelenggarakan layanan konseling kelompok
3)
Evaluasi
yang mencakup kegiatan:
a) Menetapkan materi evaluasi
b) Menetapkan prosedur evaluasi
c) Menyusun instrumen evaluasi
d) Mengoptimalisasikan instrumen evaluasi
e) Mengolah hasil aplikasi instrumen
4)
Analisis
hasil evaluasi yang mencakup kegiatan:
a)
Melakukan
analisis
b)
Menafsirkan
hasil analisis
5)
Tindak
lanjut yang mencakup kegiatan
a) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut
b) Mengomunikasikan rencana tindak lanjut
kepada pihak-pihak terkait
c) Melaksanakan rencana tindak lanjut
6)
Laporan
yang mencakup kegiatan:
a) Menyusun laporan layanan konseling
kelompok
b) Menyampaikan laporan kepada kepala
sekolah atau madrasah dan kepada pihak-pihak lain yang terkait
c) Mengomunikasikan laporan layanan.
D. Jenis Masalah yang Dihadapi Individu
(Siswa)
Siswa di sekolah dan madrasah sebagai
manusia (individu) dapat dipastikan memiliki masalah, tetapi kompleksitas
masalah yang dihadapi oleh individu yang satu dengan yang lainnya tentulah
berbeda- beda dan pada umumnya jenis-jenis masalah yang dihadapi individu,
terutama yang dihadapi siswa sekolah, dapat digolongkan menjadi beberapa jenis
masalah sebagai berikut:[31]
1. Masalah pengajaran atau belajar
Dalam perbuatan belajar dapat
timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar.
Beberapa masalah belajar mengajar, misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang
baik agar perbuatan belajar berhasil memilih metode dan alat-alat yang tepat
sesuai dengan jenis dan situasi belajar dan sebagainya. Bagi murid sendiri
sering mengalami berbagai kesulitan dalam menghadapi kegiatan pelajaran
misalnya, dalam cara membagi waktu belajar, memilih materi yang sesuai, belajar
bekelompok, menyusun catatan, mengerjakan tugas-tugas, cara menggunakan
buku-buku pelajaran dan sebagainya.[32]
2. Masalah pendidikan
Dalam hubungan ini individu mengalami
berbagai kesulitan yng berhubungan dengan kegiatan pendidikan pada umumnya.
Ketika anak memasuki situasi sekolah yang baru ia dihadapkan pada beberapa
masalah, misalnya; menesuaikan dengan sekolah baru, pelajaran baru, tata tertib
sekolah, guru-guru dan sebagainya. Dalam keseluruhan program pendidikan di
sekolah, murid-murid akan menghadapi masalah-masalah, seperti memilih kegiatan
ekstra kurikuler, memilih program studi yang cocok, mencari teman belajar yang
cocok dan sebagainya. Pada akhir pendidikan murid-murid akan berhadapan dengan
berbagai masalah, misalnya memilih studi lanjut, memilih jenis-jenis latihan
tertentu, menggunakan ketrampilan-ketrampilan tertentu, untuk kegiatan-kegiatan
tertentu dan memilih pendidikan tertentu untuk pekerjaan tertentu. Demikian
pula masalah-masalah kelambatan belajar yang dialami murid-murid yang tergolong
lambat dan terlampau cepat dalam belajarnya. Semuanya termasuk masalah-masalah
pendidikan. Masalah ini banyak dialami oleh murid-murid sekolah pada umumnya.[33]
3. Masalah pekerjaan
Masalah-masalah ini berhubungan
dengan memilih pekerjaan. Misalnya dalam memilih latihan-latihan tertentu untuk
pekerjaan tertentu, memilih jenis-jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya,
mendapatkan penjelasan tentang jenis pekerjaan, penempatan dalam pekerjaan
tertentu dan memperoleh penyesuaian yang baik dalam lingkungan pekerjaan
tertentu. Pada umumnya masalah pekerjaan ini dirasakan oleh murid-murid
sekolah, terutama murid-murid di sekolah menengah Atas dan Perguruan Tinggi.
Tetapi murid-murid Sekolah Menengah Pertama pun tidak sedikit yang menghadapi
masalah pekerjaan ini. Bahkan murid-murid Sekolah Dasar juga banyak yang tidak
lepas dari masalah ini, terutama murid-murid yang tidak melanjutka pendidikan
mereka.[34]
4. Masalah penggunaan waktu senggang
Masalah ini dirasakan oleh murid
dalam menghadapi waktu-waktu luang yang tidak terisi oleh suatu kegiatan
tertentu. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara mengisi waktu-waktu
tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri
maupun bagi masyarakat di lingkungannya.
Ketidakmampuan
menggunakan waktu senggang kadang-kadang dapat menimbulkan masalah-masalah yang
lebih besar lagi, misalnya kenakalan anak, melamun dan sebagainya. Masalah
penggunaan waktu senggang misalnya bagaimana merencanakan suatu kegiatan dalam
waktu luang, mengisi waktu luang dan memilih kegiatan yang cocok. Murid-murid
di sekolah pada umumnya banyak menghadapi masalah ini, terutama pada waktu hari
libur dan di luar jam pelajaran.[35]
5. Masalah sosial
Kadang-kadang murid menghadapi
kesulitan dalam hubungannya dengan individu lain atau ddengan lingkungan
sosialnya. Masalah ini timbul karena kekurangan
kemampuan murid berhubungan dengan lingkungan sosialnya atau lingkungan
sosial itu sendiri kurang sesuai dengan keadaan dirinya. Misalnya kesulitan
dalam mencari teman belajar, teman bermain, merasa terasing dalam
pekerjaan-pekerjaan kelompok dan sebagainya. Kita sering menjumpai murid-murid
yang sebetulnya pandai dalam pelajaran, tetapi kurang mampu untuk berhubungan
dengan teman-temannya. Ia kurang disenangi dalam pergaulan. Masalah-masalah
tersebut disebut masalah sosial dan merupakan salah satu jenis masalah yang
sering dihadapi murid-murid.
6. Masalah pribadi
Dalam situasi tertentu murid dihadapkan pada
suatu kesulitan yang bersumber dari dalam dirinya. Masalah-masalah itu timbul
karena individu merasa kurang berhasil dalam menghadapi dan menyesuaikan diri
dengan hal-hal dari dalam dirinya sendiri. Misalnya konflik berlarut-larut dan
gejala-gejala frustasi merupakan sumber timbulnya masalah-masalh pribadi lain.
Masalah-masalah ini sering dialami para pemuda pada waktu menjelang masa
adolesensi yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang cepat baik fisik maupun
mental. Pada umumnya masalah pribadi ini timbul karena individu tidak berhasil
dalam mempertemukan antara aspek-aspek pribadi di satu pihak dan keadaan
lingkungan di pihak lain.[36]
Sedangkan
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah individu termasuk
siswa sebagai berikut:[37]
a.
Masalah
Individu yang Berhubungan dengan Tuhannya
Adalah
kegagalan individu melakukan hubungan secara vertikal dengan Tuhannya, seperti
sulit menghadirkan rasa takut, memiliki rasa tidak bersalah atas dosa yang
dilakukan, sulit menghadirkan rasa taat. Dampak dari kesemua itu adalah
timbulnya rasa malas atau enggan melaksanakan ibadah dan sulit untuk
meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah.
b.
Masalah
Individu Berhubungan dengan Dirinya Sendiri
Adalah
kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu
mengajak atau menyeru dan membimbing kepada kebaikan dan kebenaran Tuhannya.
c.
Masalah
Individu yang Berhubungan dengan Lingkungan Keluarga
Adalah
kegagalan ketidakmampuan individu dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan
keluargany, misal hubungan antara anak dengan ayah dan ibu, adik dengan kakak
dan saudara-saudara lainnya. Kondisi ini akan menyebabkan anak merasa tertekan,
kurang kasih sayang, dan kurang keteladanan dari kedua orang tua.
d.
Masalah
Individu yang Berhubungan dengan Lingkungan Kerja
Adalah
kegagalan individu memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik
pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmampuan
berkomunikasi dengan atasan dn rekan kerja, kegagalan melaksanakan pekerjaan-
pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
e.
Masalah
Individu yang Berhubungan dengan Lingkungan Sosialnya
Adalah
ketidak mampuan individu melakukan penyesuaian diri (adaptasi) baik dengan
lingkungan tetangga, sekolah, ataupun dengan masyarakat. Atau kegagalan dalam
bergaul dengan lingkungan yang beraneka ragam watak, sifat, dan prilaku.
Semua
masalah di atas harus diidentifikasi oleh guru pembimbing disekolah dan
madrasah, sehingga bisa menetapkan skala prioritas masalah mana yang harus
dibicarakan terlebih dahulu dalam pelayanan bimbingan dan konseling.
E. Sumber Masalah
Sebenarnya ketika kita ingin
menyelesaikan suatu permasalahan, maka kitapun harus meneliti akar
permasalahannya. Setidaknya ada 3 sumber masalah yang dapat kita amati antara
lain:[38]
1. Keluarga
Penyebab
awal masalah siswa tentu bisa dilihat dari asal siswa yaitu keluarga. Suasana
keluarga yang tidak kondusif tentu akan mengakibatkan situasi belajar tidak
akan nyaman bagi anak. Beberapa kondisi yang tidak kondusif itu disebabkan :[39]
a. Lemahnya Pengawasan Orang Tua
Hal
ini disebabkan karena sebagian masyarakat merasa penghasilannya tidak cukup
dengan tuntutan kebutuhan yang semakin tinggi. Sehingga menuntut kedua orang
tua bekerja diluar rumah. Sebagai dampaknya anak menjadi jauh dari pengawasan
orang tua, dan anak menjadi kurang mendapat perhatian sehingga ketika dikelas
dia berusaha mencari perhatian dengan membuat ulah, ramai dikelas dan lain
sebagainya.
b. Kurangnya Keteladanan dan Pemahaman
Islam dari Rumah
Hal
ini membuat merekah jauh dari sopan santun, rendah kontrol dalam aktivitas
ibadah, lemah tanggung jawab dan tidak peduli dengan pemahaman agamanya padahal
ini adalah pegangan utama untuk kehidupan mereka.
2. Masyarakat
Masyarakat
dibedakan menjadi 2, yaitu sekolah dan tempat tinggal.[40]
a. Tempat Tinggal
Masyarakat
yang cuek dengan orang lain cukup memberikan andil dalam membangun kepribadian
anak, lingkungan masyarakat yang buruk misalnya: anak berkata jorok, permainan
latihan judi-kelereng, kartu dan PS, internet yang membuat mereka tidak betah
dirumah dan lebih terpenggaruh dengan dunia luar rumah.
b. Sekolah
Misal
teman yang tingkah lakunya buruk kadang dapat mempengaruhi siswa, kontrol guru
yang lemah, kadang guru sudah jenuh menasihati anak tidak juga berubah, guru
kasar dan memarahi siswa. Kadang guru sudah begitu banyak beban tugasnya,
rendahnya gaji guru membuat guru tidak fokus pada aktivitas mengajar sehingga
mereka terpaksa “Nyambi” pekerjaan lain.
3. Negara
Negara
dalam hal ini juga turut memberikan kontribusi kenakalan siswa. Hal ini di
sebabkan karena negara terpengaruh pendidikan model kapitalis. Tuntutan
kurikulum yang berat memperparah kondisi dan semangat belajar anak. Disamping
itu, terbatasnya anggaran pendidikan menjadikan sarana sekolah minim dan upaya
melepaskan tanggung jawab pendanaan yang kemudian dialihkan pada swastanisasi
institusi pendidikan mengakibatkan pendidikan di negeri ini semakin mahal.[41]
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
makalah diatas dapat disimpulkan bahwa
Jenis
bimbingan dan konseling dilihat dari suatu permasalahannya ada tiga jenis
bimbingan dan konseling yaitu bimbingan akademik/belajar, bimbingan sosial
pribadi, bimbingan karier, bimbingan keluarga. Ilihat pada jumlah orang
(individu) yang akan diberikan pelayanan bantuan ada dua yaitu bimbingan dan
konseling individual dan bimbingan dan konseling kelompok. Dilihat dari segi
waktu penanganan, bimbingan dan konseling krisis, bimbingan dan konseling
fasilitatif, bimbingan dan konseling preventive, bimbingan dan konseling
developmental.
Sifat
bimbingan dan konseling yaitu pencegahan/preventif, penyembuhah/korektif,
perbaikan, pemeliharaan, pengembangan.
Jenis layanan bimbingan dan konseling
yaitu layanan pengumpulan data, layanan informasi, layanan penempatan, layanan
konseling, layanan referal, layanan evaluasi dan tindak lanjut, layanan
konseling perorangan, layanan konseling kelompok
Jenis masalah yang dihadapi individu
(siswa). Masalah pengajaran atau belajar, masalah pendidikan, masalah
pekerjaan, masalah penggunaan waktu senggang, masalah sosial, masalah pribadi. Sumber
masalah adalah berasal dari keluarga, masyarakat, negara
DAFTAR
PUSTAKA
Hikmawati, Fenti. Bimbingan Konseling. ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2011)
Kartadinata, Sunaryo. Layanan Bimbingan Dan Konseling Syarat
Nilai. (Jakarta: 2006)
Mu’awanah dan Rita Hidayah. Bimbingan dan Konseling Islami Di Sekolah
Dasar. (Jakarta: Bumi Aksasa. 2009)
Musthofa,Bahri. Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. (Surabaya: Putra Media Nusantara. 2011)
Nana
Syaodih Sukmadinata. Landasan psikologi Proses Pendidikan. ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2005)
Nurihsan, Ahmad Juntika. Bimbingan dan Konseling
dalam Berbagai Latar Kehidupan. (Bandung: Refika Aditama. 2006)
Prayitno. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling.
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999),
Siradj, Shahudi. Pengantar Bimbingan dan
Konseling. (Surabaya: Revka Petra Media. 2012)
Sukardi, Dewa Ketut. Pengantar Pelaksanaan
Program Bimbingan dan Konseling. (Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2000)
Sukardi, Dewa Ketut. Proses Bimbingan dan
Penyuluhan. (Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1995)
Tohirin. Bimbingan dan Konseling di sekolah dan
madrasah. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2013)
[1] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah (Surabaya: Putra Media Nusantara,2011),86.
[2] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan (Bandung: Refika
Aditama,2006),15.
[3] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, 86.
[4] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, 86.
[5] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, 86.
[6] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, 16.
[7] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, 16.
[8] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, 17.
[9] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, 17.
[10] Shahudi Siradj, Pengantar
Bimbingan dan Konseling (Surabaya: Revka Petra Media, 2012), 27.
[11] Shahudi Siradj, Pengantar
Bimbingan dan Konseling , 34.
[12] Shahudi Siradj, Pengantar
Bimbingan dan Konseling, 36
[13] Shahudi Siradj, Pengantar
Bimbingan dan Konseling, 65.
[14] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, 20.
[15] Fenti Hikmawati, Bimbingan Konseling , ( Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2011), 19.
[16] Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan
dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, 22
[17] Shahudi Siradj, Pengantar
Bimbingan dan Konseling, 69.
[19] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2013), 158
[20] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 159
[21] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 160
[22] Dewa Ketut Sukardi, Proses
Bimbingan dan Penyuluhan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995), 78.
[23] Dewa Ketut Sukardi, Proses
Bimbingan dan Penyuluhan, 79
[24] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar
Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2000), 48.
[25] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar
Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, 49
[26] Prayitno, Dasar-dasar
Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), 255
[27] Prayitno, Dasar-dasar
Bimbingan dan Konseling, 257
[28] Prayitno, Dasar-dasar
Bimbingan dan Konseling, 258
[29] Prayitno, Dasar-dasar
Bimbingan dan Konseling,258
[30] Prayitno, Dasar-dasar
Bimbingan dan Konseling, 259
[31] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 106
[32] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 107
[33] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 108
[34] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 109
[35] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 110
[36] Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di sekolah dan madrasah, 111
[37] Mu’awanah dan Rita Hidayah, Bimbingan dan Konseling Islami Di Sekolah Dasar (Jakarta: Bumi
Aksasa, 2009), 70.
[38] Nana Syaodih
Sukmadinata, Landasan psikologi Proses
Pendidikan ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) Hlm. 238.
[39] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, 109.
[40] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, 110.
[41] Bahri Musthofa, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, 110.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar