Blogger Widgets Aini Latifatun Zahro : Proposal Penelitian Tindakan Kelas

Halaman

Rabu, 09 Desember 2015

Proposal Penelitian Tindakan Kelas

Peningkatan Pemahaman Siswa MaPel Matematika Materi Pecahan Melalui Pendekatan RME pada Siswa Kelas III A MI Salafiyah Surabaya
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Pendidikan

Description: Description: Description: E:\BANNER\1470410_742383642456682_1414134503_n.jpg












Dosen : Zudan Rosyidi, SS.MA
Aini Latifatun Zahro
D77213053
PGMI – 5C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2015
“Peningkatan Pemahaman Siswa MaPel Matematika Materi Pecahan Melalui Pendekatan RME pada Siswa Kelas III A MI Salafiyah Surabaya”
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pembelajaran di Sekolah-sekolah turut andil dalam pencapaian mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembelajaran ini dapat dispesifikasikan lagi sampai kepada pembelajaran dari salah satu mata pelajaran yang memberikan kontribusi positif bagi pencerdas kehidupan bangsa sekaligus turut memanusiakan bangsa dalam arti dan cakupan yang lebih luas. Mata pelajaran tersebut adalah matematika. [1]
Menurut Ruseffendi yang dikutip oleh Heruman matematika adalah bahasa simbol ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan stuktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak diidentifikasikan keunsur yang diidentifikasikan, ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil. Sedangkan hakekat matematika menurut Soedjadi, yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, pola pikir yang deduktif.[2]
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, pengetahuan matematika harus dikuasai sedini mungkin oleh para siswa.
Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit, meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, seperti halnya bahasa, membaca dan menulis. Kesulitan matematika harus diatasi sedini mungkin, kalau tidak akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai.
            Pembelajaran matematika di MI Salafiyah Surabaya didapati siswa belum memahami tentang pecahan karena guru menerangkan langsung kepada materi tidak dimulai pada membangun pemahaman siswa, sehingga siswa menjadi bingung. siswa lebih banyak menunggu sajian dari guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan, serta sikap yang mereka butuhkan.
Pemahaman siswa yang rendah antara lain disebabkan karena pada umumnya dalam proses pembelajaran yang diterapkan di MI masih cenderung bersifat konvensional dengan hanya mendengar ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan pembelajarannya didominasi oleh guru dan sedikit melibatkan siswa. Sehingga siswa menjadi cepat bosan dan malas dalam mengikuti materi pelajaran.  Selain itu interaksi antara guru dan siswa selama proses pembelajaran sangat minim dan dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Model pembelajaran yang digunakan guru merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang cenderung membuat siswa pasif dalam proses belajar mengajar, dapat membuat siswa merasa bosan sehingga tidak tertarik lagi untuk mengikuti pelajaran tersebut Akibatnya adalah penguasaan mereka terhadap materi yang diberikan tidak tuntas, dengan demikian aktifitas belajarnya menjadi rendah. Untuk dapat memahami suatu konsep atau teori dalam matematika bukanlah suatu pekerjaan mudah.  Sehingga untuk mempelajari matematika dengan baik diperlukan aktivitas belajar yang baik.
Salah satu pendekatan yang di asumsiukan dapat meningkatkan pemahaman belajar dan siswa senang belajar adalah dengan menggunakan pendekatan realistik. Menurut zainurie (2007) matematika realistik adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman peserta didik sebagai titik awal pembelajaran.[3]
Realistic Mathematics Education (RME) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu.
Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongkret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah,keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.[4]
Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) ini juga diterapkan agar  dapat membantu guru khusunya dalam meningkatkan pemahaman siswa. Selain itu agar penyajian bahan ajar matematika tidak lagi terbatas hanya ceramah dan membaca isi buku, sehingga diharapkan siswa tidak lagi merasa bosan dan jenuh dengan materi pelajaran. Berdasarkan hal diatas akhirnya penulis mengambil judul Peningkatan Pemahaman Siswa MaPel Matematika Materi Pecahan Melalui Pendekatan RME pada Siswa Kelas III A MI Salafiyah Surabaya.

B.     Rumusan Masalah Penelitian
Apakah penggunaan pendekatan RME dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya pada mata pelajaran Matematika materi pecahan?

C.     Tujuan Penelitian Tindakan
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa mapel Matematika materi pecahan melalui pendekatan RME pada siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya

D.    Manfaat  Penelitian
·           Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas.
·           Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian yang sejenis.
·           Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam membuat kebijakan tentang peningkatan kualitas sekolah.

E.     Hipotesis Tindakan
Pendekatan RME dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya pada mata pelajaran Matematika materi pecahan

F.      Ruang Lingkup
Berdasarkan permasalahan di atas, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Dalam Meningkatkan Pemahaman Matematika materi Pecahan pada Siswa Kelas  III A MI Salafiyah Surabaya Semester 2  Tahun Ajaran 2015/2016.
G.    Definisi Operasional
1.         Pendekatan Pembelajaran matematika realistik maksudnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.
2.         Peningkatan pemahaman matematika maksudnya adalah peningkatan :
a.    Kemampuan memahami matematika dilihat dari ketepatan dan kecepatan mengerjakan soal bila dibandingkan sebelumnya.
b.    Menumbuhkan rasa senang siswa terhadap pelajaran matematika.



BAB II
KAJIAN TEORI

A.      Pemahaman Pembelajaran Matematika Materi Pecahan
1.         Pemahaman
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan.[1] Benyamin S. Bloom pemahaman adalah kemampuan untuk menginterpretasi atau mengulang informasi dengan menggunakan bahasa sendiri.[2]
Pemahaman ini berasal dari kata ”Faham” yang memiliki arti tanggap, mengerti benar, pandangan, ajaran.[3] Disini ada pengertian tentang pemahaman yaitu: kemampuan memahami arti suatu bahan pelajaran, seperti menafsirkan, menjelaskan atau meringkas aatau merangkum suatu pengertian kemampuan macam ini lebih tinggi dari pada pengetahuan.[4] Pemahaman juga merupakan tingkat berikutnya dari tujuan ranah kognitif berupa kemampuan memahami atau mengerti tentang isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu mempertimbangkan atau memperhubungkannya dengan isi pelajaran lainnya. Dan pemahaman ini dapat dibagi 3 kategori yaitu:
Tingkat Rendah  :  Pemahaman terjemah mulai dari terjemahan dalam arti yang  sebenarnya semisal,  Bahasa asing dan bahasa Indonesia.
Tingkat Menangah  : Pemahaman yang memiliki penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan diketahui beberapa bagian dari grafik dengan kejadian atau peristiwa.
Tingkat Tinggi       : Pemahaman ekstrapolasi dengan ekstrapolasi yang diharapkan seseorang mampu melihat di balik, yang tertulis dapat membuat ramalan konsekuensi atau dapat memperluas resepsi dalam arti waktu atau masalahnya.
Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap pelajaran yang  disampaikan guru dalam proses belajar-mengajar, maka diperlukan adanya  penyusunan item tes pemahaman. Adanya sebagaian item pemahaman dapat diberikan dalam bentuk gambar,  denah, diagram, dan grafik, sedangkan bentuk dalam tes objektif biasanya digunakan tipe pilihan ganda dan tipe benar-salah. Hal ini dapat dijumpai dalam tes formatif, subformatif, dan sumatif.[5]
Menurut Poesprodjo, bahwa pemahaman bukan hanya kegiatan berpikir semata, melainkan pemindahan letak dari dalam disituasi yang lain. Pemahaman merupakan suatu kegiatan berpikir secara diam-diam dan menemukan dirinya dalam diri orang lain. Pemahaman atau comprehension, adalah suatu kemampuan yang umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar.  Oleh karena itu, siswa dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkan dengan hal-hal yang lain.
Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Pemahaman termasuk dalam salah satu bagian dari aspek kognitif, karena pemahaman merupakan tingkat berfikir yang lebih tinggi.
Mulyasa menyimpulkan bahwa pemahaman peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas dan pengarahan diri. Dalam hal ini, peserta didik akan lebih mudah untuk memahami pelajaran jika :
a.              Dikembangkannya rasa percaya diri dalam diri peserta didik, sehingga peserta didik tersebut akan lebih mudah untuk memahami pelajaran yang diberikan.
b.             Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berkomunikasi secara bebas dan terarah.
c.              Melibatkan peserta didik secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan sehingga pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran dapat tercapai.[6]
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman belajar banyak jenisnya, akan tetapi dapat digolongkan menjadi dua saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.
a.              Faktor-faktor intern
Faktor-faktor yang dibahas dalam faktor intern ini ada tiga faktor, yaitu:
1)        Faktor Jasmaniah
Sehat berarti dalam keadaan baik dan bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu mejadi kurang bersemangat dan adanya gangguan-gangguan lainnya.
2)        Faktor Psikologis
a)    Inteligensi
Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar seseorang. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat inteligensi yang rendah. Namun demikian, walaupun siswa mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi belum tentu behasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan inteligensi ini merupakan salah satu faktor diantara faktor yang lainnya.
b)   Perhatian
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Dan agar siswa dapat belajar dengan baik, maka usahakanlah bahan pelajaran tersebut selalu menarik perhatian.
c)    Minat
Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan beberapa kegiatan. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena jika bahan yang pelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka proses belajar mengajar tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik dan pemahaman siswa terhadap pelajaran tersebut tidak akan dapat tercapai. Karena bahan pelajaran yang menarik minat siswa akan lebih mudah untuk di pelajari dan siswa pun akan menjadi paham.
d)   Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar. Dan jelaslah bahwa bakat tersebut mempengaruhi belajar seseorang.
e)    Motif
Dalam proses belajar mengajar, haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang menunjang belajar.
f)    Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Dengan kata lain, anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar dan belajarnya akan lebih berhasil jika anak telah siap (matang)
g)   Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesiapan ini juga perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
3)      Faktor Kelelahan
Kelelahan pada diri seseorang itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani terlihat dari lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membandingkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk melakukan sesuatu itu akan menjadi hilang.
b.             Faktor – faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu :
1)             Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa:
a)     Cara orang tua mendidik
b)    Relasi antara anggota keluarga
c)     Suasana rumah tangga
d)    Keadaan ekonomi keluarga
e)     Pengertian orang tua
f)     Latar belakang kebudayaan
2)             Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar diantaranya mencakup:
a)     Metode mengajar
b)    Kurikulum
c)     Relasi antara guru dengan siswa
d)    Relasi siswa dengan siswa
e)     Disiplin sekolah
f)     Waktu sekolah
g)    Standar pelajaran
h)    Keadaan gedung
i)      Metode belajar
j)      Perkerjaan rumah
3)             Faktor Masyarakat
Masyarakat juga merupakan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Adapun pengaruh lingkungan masyarakat tersebut adalah :
a)     Kegiatan siswa dalam masyarakat
b)    Media massa
c)     Teman bergaul
d)    Bentuk kehidupan masyarakat[7]
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya pemahaman disini dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk dapat memahami atau menguasai suatu bahan materi ajar dalam suatu pembelajaran. Pemahaman bukan hanya sekedar tahu, tetapi juga menginginkan siswa yang belajar dapat memanfaatkan atau mengaplikasikan apa yang telah dipahaminya. Apabila siswa tersebut memahami apa yang telah dipelajarinya, maka siswa tersebut akan siap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan pada saat belajar.
2.      Pembelajaran Matematika  di MI
Pembelajaran adalah proses yang dinamis, proses yang berkembang terus dan di dalam proses itu akan terjadi proses belajar. Pembelajaran matematika yang baik menuntut penggunaan metode-metode, media dan pendekatan pembelajaran yang bervariasi. Oleh karena itu guru harus bisa menciptakan pembelajaran yang bervariasi. Guru tidak boleh memaksa menciptakan program belajar bagi individu, tetapi harus menciptakan program pembelajaran bagi komunitas banyak. Pembelajaran matematika akan lebih baik dilaksanakan dengan  mengaitkan keadaan real (nyata) yang terdapat di lingkungan siswa, dengan begitu pembelajaran akan lebih mudah dipahami siswa serta bermanfaat untuk memecahkan masalah-masalah yang kontekstual[8]
Mushlisoh 1991 mengemukakan bahwa guru berkewajiban untuk menciptakan suatu kondisi di sekolah, terutama di dalam kelas yang memungkinkan anak mengembangkan minat untuk belajar matematika.[9]
3.      Pecahan
a.        Pengertian Pecahan
Pecahan dapat diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilustrasi gambar, bagian yang dimkasud adalah bagian yang diperhatikan, yang biasanya ditandai dengan arsiran. Bagian inilah yang dinamakan pembilang. Adapun bagian yang utuh adalah bagian yang dianggap sebagai satuan, dan dinamakan penyebut.[10]
Bilangan pecahan merupakan bilangan yang mempunyai jumlah kurang atau lebih dari utuh. Terdiri dari pembilang dan penyebut.Pembilang merupakan bilangan yang terbagi. Sedangkan penyebut merupakan bilangan pembagi. Jenis-jenis bilangan pecahan adalah pecahan biasa, pecahan campuran, pecahan  desimal, persen, dan permil. Bilangan pecahan adalah bilangan yang disajikan/ditampilkan dalam bentuk; a, b bilangan bulat dan b ≠ 0 a disebut pembilang dan b disebut penyebut. [11]
b.       Jenis-jenis Bilangan Pecahan
1)      Pecahan biasa adalah pecahan yang dinyatakan dengan pembilang per penyebut
2)      Pecahan campuran adalah pecahan yang terdiri dari bilangan bulat dan bilangan biasa.
3)      Pecahan Desimal adalah bilangan yang di dapat dengan cara membagi suatu bilangan lain dengan angka 10 dan kelipatannya.
4)      Persen adalah pecahan yang nilainya perseratus biasanya dilambangkan dengan %. [12]
Ada banyak jenis pecahan seperti yang telah disebutkan di atas. Namun yang dipelajari di kelas III A MI/SD dan yang akan menjadi materi pokok dalam penelitian ini  adalah bilangan pecahan sub pokok bahasan tentang mengenal dan memahami pecahan sederhana dan pecahan senilai. Konsep yang dipelajari sebagai berikut:
1)      Mengenal dan Memahami Pecahan Sederhana
Pecahan sederhana terdiri dari bilangan penyebut dan pembilang.
Contoh: Sebuah Apel akan dibagikan kepada 4 orang siswa maka ditulis dalam bentuk pecahan ¼. Pecahan ¼ dibaca satu per empat. Angka yang diatas disebt pembilang sedangkan angka yang dibawah disebut dengan penyebut.
2)      Pecahan Senilai
Dalam bilangan pecahan dikenal pecahan-pecahan senilai, artinya pecahan-pecahan tersebut mempunyai nilai yang sama meskipun dituliskan dalam bentuk pecahan yang berbeda. Pecahan-pecahan senilai mempunyai nilai yang sama. Sebuah pecahan juga tidak akan berubah nilainya jika pembilang dan penyebutnya dibagi atau dikali dengan bilangan yang sama. Sehingga pecahan senilai dapat kita tentukan dengan mengalikan atau membagi pembilang dan penyebutnya dengan bilangan yang sama.[13]

B.       Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education)
1.    Pengertian Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
Menurut zainurie (2007) matematika realistik adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman peserta didik sebagai titik awal pembelajaran.[14]
Realistic Mathematics Education (RME) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu.
Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongkret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah,keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.[15]
2.    Prinsip – Prinsip Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
a.       Penemuan kembali terbimbing dan matematisasi progresif, artinya dalam mempelajari matematika, perlu diupayakan agar peserta didik mempunyai pengalaman dalam menemukan sendiri berbagai konsep, prinsip matematika.[16]
b.      Fenomologi didaktik, artinya bahwa dalam mempelajari konsep – konsep, prinsip – prinsip, dan materi – materi lain dalam matematika, para peserta didik perlu bertolak dari fenomena – fenomena kontekstual, yaitu masalah – masalah yang berasal dari dunia nyata, atau setidak – tidaknya dari masalah yang dapat dibayangkan.
c.       Mengembangkan model – model sendiri, artinya bahwa dalam mempelajari konsep – konsep atau materi – materi matematika yang lain melalui masalah – masalah kontekstual, peserta didik perlu mengembangkan sendiri cara menyelesaikan maslah tersebut.
3.    Karakteristik Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
a.         Menggunakan konteks “ Dunia Nyata”
Dalam pembelajaran matematika realistik, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (dunia nyata), sehingga memungkinkan peserta didik menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung.[17]
b.         Menggunakan model – model (matematisasi)
Peserta didik membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Pertama adalah model situasi yang dekat dengan dunia nyata.
c.         Menggunakan Produksi dan Kontruksi
Startegi – strategi informal yang berupa prosedur pemecahan masalah kontekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran.
d.        Menggunakan Interaktif
Interaksi antar murid dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam pendidikan matematika realistik.
e.         Menggunakan keterkaitan
Dalam mengaplikasikan matematika, biasanya diperlukan pengetahuan yang lebih kompleks, dan tidak hanya aritmatika, aljabar, atau geometri tetapi juga bidang yang lain.
4.    Konsep Pendekatan Matematika realistik
a.       Konsep Pendekatan Matematika realistik tentang siswa adalah sebagai berikut:[18]
1)      Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri
2)      Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya
3)      Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan dan penolakan.
4)      Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman.
5)      Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik.
b.      Konsep Pendekatan Matematika realistik tentang guru adalah sebagai berikut :
1)      Guru hanya sebagai fasilitator.
2)      Guru harus mampu membangun pembelajaran interaktif.
3)      Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil.
4)      Guru tidak terpaku pada materi yang ada pada kurikulum, tetapi aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil.
c.       Konsep Pendekatan Matematika realistik tentang pembelajaran matematika meliputi aspek-aspek berikut :
1)      Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah riil.
2)      Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut.
3)      Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan permasalahan yang diajukan.
4)      Pembelajaran berlangsung secara interaktif.
5.      Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik[19]
a.       Persiapan
1)      Menentukan masalah kontekstual yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki berbagai macam strategi yang mungkin akan ditepuh siswa dalam menyelesaikannya.
2)      Menyiapkan model atau alat peraga yang dibutuhkan.
b.      Pembukaan
1)      Siswa diperkenalkan dengan masalah kontekstual.
2)      Siswa diminta untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
c.       Proses Pembelajaran
1)      Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok.
2)      Setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya didepan kelas, kemudian kelompok lain memberi tanggapan terhadap hasil kerja siswa atau kelompok penyaji.
3)      Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik.
d.      Penutup
1)      Siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat itu.
2)      Siswa harus mengerjakan evaluasi dalam bentuk matematika formal.
6.      Kelebihan dan kekurangan Pembelajaran Matematika Realistik[20]
a.       Kelebihan
1)      Pelajaran menjadi menyenagkan.
2)      Guru ditantang untuk mempelajari bahan
3)      Guru lebih kreatif.
4)      Siswa yang cerdas tampak semakin pandai.
b.      Kekurangan
1)      Sulit diterapkan di kelas besar.
2)      Mebutuhkan waktu yang lama untuk memahai materi pelajaran.
3)      Siswa yang kurang cerdas memerlukan waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan matematika realistik adalah pendidikan matematika yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Dalam pandangan PMRI, pembelajaran matematika lebih memusatkan kegiatan belajar pada peserta didik dan lingkungan serta bahan ajar yang disusun sedemikian rupa sehingga peserta didik lebih aktif. Peran guru lebih banyak sebagai motivator terjadinya proses pembelajaran, bukan sebagai pengajar atau penyampai ilmu. Guru juga berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya, peserta didik berbagi ide-idenya, artinya mereka bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

C.      Pengaruh penggunaan Pendekatan RME terhadap pemahaman siswa materi pecahan
Jika dikaitkan dengan belajar matematika maka pemahaman terjadi karena evaluasi yang dilakukan guru dalam mempelajari matematika. Agar dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran maka perlu dilakukan usaha dan tindakan atau kegiatan untuk menilai pemahaman siswanya.
Pembelajaran matematika harus selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari karena sifat materi matematika abstrak, sehingga siswa merasa kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu seorang guru dalam pembelajaran matematika dapat memilih pendekatan matematika realistik yang sesuai dengan kehidupan siswa, agar siswa tidak asing lagi antara keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Karena prinsip utama pembelajaran matematika realistik adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, model-model, produksi, dan kontruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan.
Seperti halnya untuk mengenalkan konsep pecahan diperlukan alat peraga yang berupa benda-benda kongkrit yang mudah dibagi menjadi beberapa bagian yang sama besar dan gambar-gambar  yang menunjukan  luas daerah suatu bangun, atau gambar garis bilangan.
Hasil penelitian yang relevan merupakan uraian sistem tentang hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan substansi yang diteliti. Berfungsi untuk memposisikan penelitian yang sudah ada dengan penelitian yang akan dilakukan. Ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan, diantaranya yaitu :
Nindya Wulan Cahyoningrum (2011) yang mengadakan penelitian tentang Penggunaan Pendekatan Matematika Realistik Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Konsep Perkalian dari penelitian ini terbukti bahwa dengan pendekatan matematika realistic dapat meningkatkan pemahaman siswa konsep perkalian pada Siswa Kelas II SDN III Pokoh Kidul Wonogiri.
Khusnul Maulidia (2015) ealkukan penelitian dengan judul "Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika Dengan Pendekatan RME (Realistic Mathematis Education) Pada Materi Pecahan Siswa Kelas III MI Nurul Ummah Sidoarjo." Penelitian ini terbukti bahwa dengan pendekatan matematika realistic dapat meningkatkan hasil belajar materi pecahan.
Tomsa'atin (2015) melakukan penelitian dengan judul "Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Penjumlahan Dan Pengurangan Melalui Pendekatan Realistik Pada Siswa Kelas I MI Raden Rahmat Bakalan Balongbendo Sidoarjo." Penelitian ini terbukti bahwa dengan pendekatan matematika realistic dapat meningkatkan hasil belajar materi penjumlahan dan pengurangan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Pendekatan Matematika Realistik sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa , peneliti merasa perlu untuk mengembangkan supaya kemampuan memahami siswa meningkat sehingga menjadikan pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.
Dalam penelitian ini, penulis lebih menekankan “Peningkatan Pemahaman Siswa MaPel Matematika Materi Pecahan Melalui Pendekatan RME pada Siswa Kelas III A MI Salafiyah Surabaya”



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Subjek Penelitian
Subyek yang diteliti adalah siswa kelas III A tahun pelajaran 2015/2016 MI Salafiyah Surabaya. Peneliti memilih kelas III karena materi pecahan pertama kali diperkenalkan di kelas III MI, dan pemahaman siswa yang kurang begitu memuaskan pada materi pecahan.

B.       Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu rangkaian penelitian yang dilakukan untuk menemukan masalah pembelajaran di kelas dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dan dilakukan secara bersiklus sampai masalah itu terpecahkan. PTK bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya konstektual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasikan.
Rancangan penelitian ini mengacu kepada model Kernmis dan Taggart yang terdiri dari empat tahap yaitu, 1) Planning (Perencanaan), 2) Acting and Observasing (Tindakan dan Observasi), dan 3) Reflecting (refleksi). Dan 4) Revisi plan (Rencana revisi).
Penelitan tindakan disini adalah kolaboboratif yaitu penelitan yang dilakukan oleh peneliti bekerjasama dengan guru kelas III A , peneliti terlibat langsung dalam merancang penelitian. merencanakan tindakan, melakukan tindakan, observasi, refleksi, dan melaporkan penelitian. Peran guru kelas III A dalam penelitian ini adalah sebagai observer, pengumpulan data, penganalisis, dan releksi.
C.      Perencanaan
Pola penelitiana PTK ini dinamakan pola kolaboratif, hal ini karena inisiatif untuk melaksanakan PTK tidak dari guru, akan tetapi dari pihak luar yang berkeinginan untuk memecahkan masalah pembelajaran. Masalah yang hendak dilaksanakan dalam pola ini bukanlah masalah yang secara langsung dan praktis dihadapi oleh guru, akan tetapi masalah yang bersifat umum yang ditentukan oleh peneliti. Walaupun gagasan dan masalah penelitian muncul bukan dari guru akan tetapi penelitian ini sangat bermanfaat untuk guru. Dengan adanya penelitian ini, guru bersangkutan akan memiliki pengalaman dalam melakukan tindakan sesuai dengan masalah yang diteliti.
Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti bekerjasama dengan guru bersangkutan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan seperti biasa, siswa dibiarkan melakukan apa saja sesuai dengan kegiatan kesehariannya di sekolah seperti tidak ada penelitian. Sebagai upaya peningkatan hasil belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya semester 2 tahun ajaran 2015/2016, peneliti menggunakan pendekatan matematika realistic untuk memudahkan siswa dalam memahami pelajaran matematika.
D.      Prosedur Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Penelitian tindakan kelas ini merupakan siklus yang dirancang dalam dua siklus. Setiap siklus ada empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan tersebut disusun dalam siklus dan setiap siklus dilaksanakan sesuai perubahan yang ingin dicapai.
Siklus I
1.         Perencanaan
a.       Guru menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan.
b.      Merancang pembuatan rencana pengajaran.
c.       Merancang pembelajaran pendekatan matematika realistik.
d.      Merancang membentuk kelompok kecil untuk mengerjakan lembar kerja siswa.
e.       Merancang pelatihan soal secara individual.
2.      Pelaksanaan
a.       Guru menyiapakan segala sesuatu agar suasana kelas siap.
b.      Guru mengadakan apersepsi/motivasi.
c.       Guru menjelaskan materi pada siswa dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari yang ada kaitannya dengan system pecahan
d.      Guru membentuk kelompok kecil dengan anggota 4 siswa, sesuai tempat duduk yang berdekatan untuk mengerjakan LKS.
e.       Siswa dengan bimbingan guru membuat kesimpulan.
f.       Siswa mengerjakan tes formatif pada akhir pelajaran.
3.        Pengamatan
Pengamatan yang dilaksanakan terhadap penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut.
a.         Pengamatan terhadap siswa, meliputi :
1)        kehadiran siswa.
2)        perhatian terhadap penjelasan guru.
3)        aktifitas siswa dalam tanya jawab dan sebagainya.
b.        Pengamatan terhadap guru.
1)        Kehadiran guru.
2)        Penampilan guru didepan kelas.
3)        Cara penyampaian materi.
4)        Pengelolaan kelas.
5)        Penggunaan alat peraga.
6)        Penggunaan bahasa.
7)        Pemanfaatan waktu.
c.         Sarana dan prasana
1)        Suasana kelas
2)        Buku-buku pelajaran penunjang
3)        Alat peraga yang diperlukan
4.    Refleksi
Refleksi merupakan langkah untuk menganalisa hasil kerja siswa. Analisis dilakukan untuk mengadakan baik kelebihan maupun kekurangan yang terdapat pada siklus I, kemudian mendiskusikan hasil analisis secara kolaborasi untuk perbaikan pada pelaksanakan siklus II
Siklus II
1.      Perencanaan
a.       Guru menentukan kembali pokok bahasan yang akan diajarkan berdasarkan pada refleksi.
b.      Merancang kembali rencana pengajaran
c.       Merancang pembelajaran pendekatan  matematika realistik
d.      Merancang pembentukan kelompok kecil untuk mengerjakan lembar kerja siswa.
e.       Merancang latihan soal secara individual.
2.      Pelaksanaan
a.       Guru menyiapkan segala sesuatu agar suasana kelas kondusif.
b.      Guru mengadakan apersepsi/motovasi.
c.       Dengan tanya jawab dijelaskan materi tentang pecahan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Guru membentuk kelompok kecil dengan anggota 4 siswa sesuai urutan absensi untuk mengerjakan lembar kerja siswa.
e.       Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.
f.       Siswa mengerjakan tes formatif pada akhir pelajaran.
3.         Pengamatan
Pengamatan yang dilaksanakan terhadap penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut.
a.       Pengamatan terhadap siswa, meliputi :
1)      kehadiran siswa.
2)      perhatian terhadap penjelasan guru.
3)      aktifitas siswa dalam tanya jawab.
4)      kerjasama dengan teman.
b.      Pengamatan terhadap guru.
1)      Kehadiran guru.
2)      Penampilan guru didepan kelas.
3)      Cara penyampaian materi.
4)      Pengelolaan kelas.
5)      Penggunaan alat peraga.
6)      Penggunaan bahasa.
7)      Pemanfaatan waktu.
c.       Sarana dan prasana
1)         Suasana kelas
2)         Buku-buku pelajaran penunjang
3)         Alat peraga yang diperlukan
4.      Refleksi
Menganalisis kembali untuk mendapatkan kesimpulan apakah hipotesis tindakan tercapai atau tidak. Maka diharapkan pada akhir siklus ini, pemahaman  siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya dapat ditingkatkan.
E.       Refleksi
Temuan-temuan pada saat melakukan tindakan setelah diobservasi kemudian dilaksanakan refleksi atau apa yang telah dicapai. Apakah refleksi tersebut ada kendala-kendala pada saat pelaksanaan atau sebaliknya. Kemudian refleksi tersebut dijadikan acuan untuk menentukan perencanaan tindakan disiklus-siklus berikutnya.
Dari beberapa siklus penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti, dengan melihat proses pembelajaran Mateatika materi pecahan pada siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya, pemahaman siswa kelas III A MI Salafiyah Surabaya dapat ditingkatkan.
F.       Instrumen Pengumpulan Data Penelitian
1.    Teknik pengambilan data
a.     Tes
Dilakukan pada setiap akhir siklus, dimaksudkan untuk memperoleh data skor tes baik tanpa rubrik maupun dengan rubrik.
b.    Observasi
Melakukan observasi dengan catatan lapangan bertujuan untuk memperoleh data secara objektif yang tidak terekam dalam lembar observasi, yaitu hal-hal yang terjadi selama pemberian tindakan. Catatan ini meliputi seluruh aktivitas peserta didik ketika tindakan berlangsung, misalnya penilaian spesifik yang menjadi petunjuk dugaan adanya permasalahan yang dapat dijadikan sebagi bahan pertimbangan bagi pelaksaan langkah berikutnya.
c.     Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah cara mengumpulkan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah siswa kelas III A MI Salafiyah, nama-nama sampel penelitian kelas kontrol dan kelas eksperimen.
2.    Instrumen Penelitian
a.    Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.
b.    Rencana Pelajaran (RP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
c.    Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegitan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran kelompok belajar
d.   Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
e.    Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika pada pokok bahasan pecahan Komposisi Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang dibeikan adalah Isian. Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 5 soal yang telah diuji coba, kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal.

G.    Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif, baik deskriptif kualitatif maupun kuantitatif. Data yang akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif adalah data tentang keaktifan peserta didik yang dikumpulkan melalui "cek list" pada rubrik pengamatan keaktifan pesta didik dan data tentang hasil belajar dinyatakan dengan nilai (skor) yang dicapai peserta didik atas penilaian ulangan dan penugasan peseta didik menyederhanakan dan mengurutkan berbagai bentuk pecahan. Data kualitatif berupa catatan pangamatan, dokumen portofolio pesrta didik, dan catatan wawancara akan dianalisis dengan analisis kualitatif dengan tahapan pemaparan data, penyederhanaan data, pengelompokan data sesuai dengan focus masalah, dan penarikan kesimpulan verifikasi. Analisis seperti ini berlangsung selama peneliti berada di lokasi penelitian hingga akhir pengumpulan data.
Analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman secara interaktif melalui proses data reduction, data displag. dan verification. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini dalah secara kualitatif dengan proses reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.
1.      Pemahaman
Skor rata-rata pemahaman merupakan skor tes formatif I dan II yang diadakan setiap akhir siklus. Hasil belajar ini diperoleh melalui penyekoran tes tanpa rubrik. Skor maksimal yang diperoleh Peseta Didik setiap mengikuti tes adalah 100. Skor rata-rata tes formatif klasikal dapat dihitung dengan rumus :
N
Dimana:
Hb     = Skor rata-rata pemahaman klasikal
= Jumlah peroleh skor seluruh siswa
N       = Jumlah peserta didik
Dengan interpretasi data sebagai berikut:
No
Rentangan
Kriteria
1
85 – 100
A (baik sekali)
2
75 – 80
B (baik)
3
65 – 70
C (cukup)
4
55 – 60
D (kurang)
5
< 50
E (kurang sekali)



H.    Menyusun Jadwal Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 yang dimulai pada bulan November sampai bulan Mei. Pada bulan November 2015 penulis dalam tahap pengajuan judul dan penyusunan proposal. Dilanjutkan bulan Desember 2015 sampai minggu ke tiga bulan Desember penulis mengajukan proposal penelitian. Pada minggu ke empat bulan september sampai dengan minggu kedua bulan Januari 2015, penulis mengurus ijin untuk melakukan penelitian. Minggu ke dua bulan Januari sampai akhir Mei melakukan penelitian dan penyusunan laporan.






[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2003),hal. 811
[2] Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hal. 77
[3] Plus A.Partanto M. Dahlan AL-Bary, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkolo.1994).,hal  279
[4] Drs. H. Muhammad .Ali., Guru Dalam proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar baru Algensindo.1996),hal 42
[5] Drs. H. Muhammad .Ali., Guru Dalam proses Belajar Mengajar,hal 49
[6] Hartono dkk, PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan), (Pekanbaru: Zanafa Publishing, 2008),hal 13
[7] Slameto, Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2010), hal. 54-71
[8] Drs. Moh Uzer Usman dan Dra. Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengarajar (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1993), hlm 4
[9] Sudirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Cer X (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003) hlm 20
[10] Esti Yuli Widayanti. Dkk. Pembelajaran Matematika MI, (Surabaya, LAPIS-PGMI, 2009), hal 8-8
[11] http://rangkuman-pelajaran.blogspot.com/2008/12/materi-matematika-bilangan pecahan.html. (diakses pada tanggal 28/10/2015).  
[12] http://rangkuman-pelajaran.blogspot.com/2008/12/materi-matematika-bilangan pecahan.html. (diakses pada tanggal 28/10/2015).  
[13] Burhan Mustaqim dan Ary Astuti, Ayo Belajar Matematika, (Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal 166
[14] Evi Soviati, Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dengan PMRI, (Bogor: Makmal Pendidikan dompet Dhuafa, 2011), Hal. 43
[15] Kusaeri dkk, Pembelajaran Matematika MI, (Surabaya: LAPIS-PGMI, 2009), Hal. 7
[16] Kusaeri dkk, Pembelajaran Matematika MI, Hal. 7
[17] Kusaeri dkk, Pembelajaran Matematika MI, hal 8
[18] Kusaeri dkk, Pembelajaran Matematika MI, hal 9.
[19] Evi Soviati, Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dengan PMRI, 42.
[20] Evi Soviati, Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dengan PMRI, 32.


[1] Depdiknas, Undang-undang  Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, Cet. III, 2006) hlm 5

[2] Heruman, Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2010), hlm 1
[3] Evi Soviati, Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dengan PMRI, (Bogor: Makmal Pendidikan dompet Dhuafa, 2011), Hal. 43
[4] Kusaeri dkk, Pembelajaran Matematika MI, (Surabaya: LAPIS-PGMI, 2009), Hal. 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar