Blogger Widgets Aini Latifatun Zahro : MAKALAH Sejarah Pendidikan Islam

Halaman

Rabu, 09 Desember 2015

MAKALAH Sejarah Pendidikan Islam

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam
“Pendidikan Islam Masa Permulaan Islam
di Indonesia”

Description: Description: Description: Description: Description: D:\Download\1454866_617899048274193_48196277_n.jpg
Dosen              : Taseman, M.Pd.I
Oleh                 : Kelompok 8
Kelas                : 5 C PGMI

Aini Latifatun Zahro               D77213053
Aminatuz Zuhriyah                
M. Afandi                   


                                                           
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2015


 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami serta bimbingan Dosen kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pendidikan Islam Masa Permulaan Islam di Indonesia dengan tepat waktu. Dan semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW.
Kami mengakui bahwa kami hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna begitu pula dengan makalah ini. Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam penulisan makalah ini. Kami melakukan semaksimal mungkin dan dengan kemampuan yang kami miliki.
            Dengan menyelesaikan makalah ini kami berharap makalah Pendidikan Islam Masa Permulaan Islam di Indonesia ini bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu kita dalam memahami lebih jelas tentang Pendidikan Islam Masa Permulaan Islam di Indonesia.


Surabaya, 10 November 2015



Penyusun.












DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ......................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
C.     Tujuan ..................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Proses Masuknya Islam di Indonesia........................................................................ 2
B.     Potret Pendidikan Islam Masa Permulaan di Indonesia ............................................ 4
C.     Materi, Metode dan lembagan Pendidikan Islam Masa Permulaan di Indonesia           5
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ............................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 14



 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan 7 M sering disinggahi pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
            Pengaruh penyebaran agama Islam di Indonesia berpengaruh pula pada pendidikan yang ada di Indonesia, yang tadinya masih primitif menjadi lebih terarahkan dengan baik. Maka dari itu pemakalah akan mengupas tentang proses pendidikan Islam pada masa permulaan di Indonesia.
B.     Rumusan Masalah
1.         Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia ?
2.         Bagaimana potret pendidikan Islam masa Permulaan ?
3.         Bagaimana Materi, metode dan kelembagaan Pendidikan Islam?
C.    Tujuan
1.         Agar kita bisa mengetahui proses masuknya Islam di Indonesia ?
2.         Agar kita bisa mengetahui potret pendidikan Islam masa Permulaan di Indonesia?
3.         Agar kita bisa mengetahui materi, metode dan kelembagaan Pendidikan Islam di Indonesia?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Proses Masuknya Islam di Indonesia
Penyebaran agama islam di Indonesia secara perlahan-lahan dan bertahap mulai dari abad ke-7 sampai ke-13. Proses masuknya dan perkembangannya islam di Indonesia dilakukan oleh para pedagang asing yang telah memeluk agama islam. Para pedagang islam itu berasal dari Persia, Gujarat, dan Arab. Agama islam dapat dengan mudah diterima oleh bangsa Indonesia yang telah memeluk agama Hindhu Budha disebabkan oleh:
1.         Syarat-syarat masuk agama islam sangat mudah.
2.         Upacara-upacara dalam agama islam sangat sederhana bila dibandingkan dengan agama Hindhu dan Budha.
3.         Agama islam tidak menganal kasta.
4.         Agama islam masuk ke Indonesia disesuaikan dengan adat istiadat setempat, dan penyebarannya dengan cara damai.
Kegiatan perdagangan dan pelayaran itu mengakibatkan munculnya kota-kota dagang seperti Malaka, Aceh, Banten, Demak, Banjar,Gowa,Tallo,Ternate dan Tidore. Para pedagang itu mempergunakan perahu layar yang sangat tergantung pada angin. Maka sambil menunggu waktu belayar lagi, mereka banyak bermukim di sekitar pelabuhan, sehingga para pedagang asing yang memeluk islam banyak berinteraksi dengan penduduk sekitar yang masih memeluk agama Hindhu Budha.
Pembawa ajaran islam ke Indonesia adalah para pedagang yang berasal dari Persia dan Gujarat. Sedangkan penerima ajaran Islam di Indonesia yaitu:
1.         Para Bangsawan dan Raja-raja di daerah pantai
2.         Para pedagang
3.         Masyarakat luas (Rakyat biasa).[1]

Cara penyebaran islam di Indonesia antara lain:
1.         Jalur perdagangan, kesibukan lalu lintas perdagangan sejak abad 7-16 M sangat menguntungkan karena para bangsawan dan para raja turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan menjadi pemilik kapal dan saham. Para pedagang yang bermukim di pesisir pulau Indonesia mendirikan masjid, dan di beberapa tempat di pesisir utara jawa, banyak para bupati-bupati yang masuk islam, dalam perkembanagan selanjutnya, mereka mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2.         Jalur Perkawinan,  dalam sudut ekonomi, pedagang muslim mempunyai status yang tinggi dibandingkan kebanyakan pribumi, sehingga putri-putri bangsawan tertarik menjadi istri-istri saudagar itu. Sebelum menikah, tentunya putri-putri itu di islamkan terlebih dahulu. Akhirnya timbul kampung-kampung islam, setelah mereka mempunyai keturunan, semakin meluas pula lingkungan islam. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi perkawinan antara orang muslim dan putri-putri bangsawan karena turut mempercepat proses islamisasi di Indonesia.
3.         Jalur Tasawuf, Para sufi mengajarkan ajaran yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal oleh masyarakat indonesia, mereka mahir dalam soal magis dan mempunyai kekuatan menyembuhkan. Bentuk islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi, mengandung pesamaan dengan alam pemikiran indonesia Pra-islam. Jadi tidak sulit untuk menyebarkan islam kepada masyarakat Indonesia.
4.         Jalur Pendidikan, dalam jalur pendidikan ini dilakukan dengan cara  membangun ppesantren-pesantren maupun pondok-pondok yang diselenggarakan oleh ulama-ulama atau kiyai-kiyai. Di podon pesantrem itu, calon guru dan kiyai mendapat pendidikan agama. Setelah pulang dari pesantren, mereka berdakwah dan tentunya mengajarkan islam di kampung halaman masing-masing.
5.         Jalur Kesenian, kesenian yang paling terkenal dalam proses islamisasi ialah kesenian wayang. Sunan kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah di setiap pertunjukannya, tetapi dia hanya minta penontonnya untuk mengucapkan kalimat syahadat. Cerita perwayangan dipetik dari kisah mahabrata dan Ramayana, tetapi massih disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan dalam islam. Kesenian yang lainnya juga dijadikan alat islamisasi, contohnya sastra (hikayat, babaad dan sebagainya), seni bangunan, seni ukir.
6.         Jalur Politik, Kebanyakan rakyat masuk islam setetlah rajanya memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politi sangat membantu tersebarnya isalm di indonesia. Disamping itu, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan islam memerangi kerajaan non-islam. Kemenangan kerajaan islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam untuk masuk islam.[2] 

B.     Potret Pendidikan Islam pada Masa Permulaan di Indonesia
Pendidikan Islam di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam di Indonesia. Dalam penyiaran islam pada tahun-tahun permulaan dilakukan oleh pemuka masyarakat yang dikenal dengan sebutan para wali. Parawali inilah yang berjasa mengembangkan agama islam, terutama di pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan wali songo. Kegiatan pendidikan Islam tersebut merupakan pengalaman dan pengetahuan yang penting bagi kelangsungan perkembangan Islam dan umat Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas. Pendidikan Islam itu bahkan menjadi tolak ukur, bagaimana Islam dan umatnya telah memainkan perananya dalam berbagai aspek sosial, politik, budaya.
Pada tahap awal pendidikan islam dimulai dari kontak-kontak mubaligh (pendidik) dengan peserta didiknya. Setelah komunitas muslim terbentuk di suatu daerah tersebut tentu mereka membangun tempat peribadatan dalam hal ini disebut masjid.[3]
Kendatipun pendidikan Islam dimulai sejak pertama Islam itu sendiri menancapkan dirinya di kepulauan nusantara, namun secara pasti tidak dapat diketahui bagaimana cara pendidikan pada masa permulaan Islam di Indonesia, seperti tentang buku yang dipakai, pengelolanya dan sistemnya. Yang dapat dipastikan hanyalah pendidikan Islam pada waktu itu telah ada, tetapi dalam bentuk yang sangat sederhana.
Pada tahap awal pendidikan islam, pendidikan berlangsung secara informal. Disinilah para Muballigh banyak berperan, yaitu dengan  memberikan contoh teladan dalam sikap hidup mereka sehari-hari. Para Muballigh itu menunjukan akhlaqul karimah, sehingga masyarakat yang menjadi tertarik untuk memeluk agama islam dan mencontoh perilaku mereka.[4]

C.    Materi, Metode dan Kelembagaan Pendidikan Islam di Indonesia
1.      Surau
Tempat ini adalah lembaga pendidikan islam di Minangkabau. Pembahasan ini hanya dipaparkan awal pertumbuhan surau sampai degan meredupnya pamor surau. Dan kondisi tersebut dilatar belakangi dengan lahirnya geraan pembaharuan di Mnangkabu yang ditandai dengan berdirinya madrasah sebagai pendidikan alternatif.
Surau ini di kenal di Minangkabu sebelum islam masuk. Dan di Minangkabau Surau adalh kepunyaan suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berfungsi untuk tempat bertem, berkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi anak-anak laki-laki yang telah akil. Baligh dan orang tua yang udzur.
Fungsi Surau ini tidak berubah setelah islam masuk, hanya saja fungsi keagamaan semakin penting yang diperkenalkan pertama kali oelh Syekh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman. Di samping Surau ini digunakan untuk shalat ternya juga digunakan untuk mengajarkan ajaran islam khususnya tarekat (Suluk).
Materi pendidikan yang diajarkan pada awalnya masih si seputar belajar huruf hijaiyah dan membaca al-qur’an, di samping ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti : keimanan, akhlaq dan ibadah. Pada umumnya pendidikan ini dilaksanakan malam hari.
Secara bertahap, eksistensi Surau ini mengalamai kemajuan. Ada 2 jenjang pendidikan Surau pada era ini, yakni :
a.    Pengajaran al-qur’an. Untuk mempelajari al qur’an itu ada 2 macamtingkatan, yakni :
1)            Pendidikan rendah : pendidikan untuk memahami ejaan huruf Al qur’an dan membaca Al-qur’an. Di samping itu juga di dalamnya mempelajari cara berwudlu dan tata cara shalat yang dilakukan dengan metode praktek dan menghafal, keimanan terutama yang berhubungan dengan sifat 20 dan akhlaq.
2)            Pendidikan atas : pendidikan membaca al-qur’an dengan lagu, qasidah, barzanji, tajwid dan kitab parukunan.
b.    Pengajian kitab
Materi pendidikan pada jenjang ini meliputi ilmu sharaf dan nahwu, ilmu fiqih, ilmu tafsir dan ilmu-ilmu lainnya. Cara mengajarkannya adalah dengan membaca sebuah kitab arab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Setelah itu baru diterangkan maksudnya. Pelaksanaan pada jenjang ini biasanya dilakukan pada siang maupun malam hari.
Pada awalnya, kitab yang dipelajari pada maing-masing materi pendidikan masih mengacu pada satu kitab tertentu. Akan tetapi setelah ulama Minagkabau yang belajar dari Timutr Tengah kembali ke tanah air, sumber yang digunakan pada setiap materi berubah menjadi bermacam-macam. Hal sedemikian, dikarenakan ulma-ulama yang pulang tidak dengan tangan hampa melainkan juga dengan membawa sumber-sumber (kitab) yang banyak sekali.
Di samping Surau sebagai lembaga pendidikan islam tetapi juga sebagai lembaga pendidikan tarekat. Fungsi surau yang kedua ini lebih dominan dalam perkembangannya di Minangkabau. Akan tetapi praktik tarekat yang dikembangkan oelh masing-masing surau tersebut lebih banyak muatan mistisnya ketimbang syariat. Gejala ini diketahui, meskipun islam sudah dianutnya masyarakat tetapi praktik-praktiknya yang bertentangan dengan syariat masih dilakuakn terutama para penguasa kaum adat.
Melihat kondisi masyarakat yang demikian akhirnya Syeikh Abdurrahman (salah seorang ulama dari Batu Hampar,), berupaya menyadarkan umat dengan pendekatan persuasive dan ia pun berhasil. Keberhasilannya ini tidak serta-merta menghilangkan praktik bid’ah.
Syeikh Aburrahman mendirikan sebuah Surau yang terkenal dengan nama “Surau Dagang” ini adalah satu usaha Syeikh Abdurrahman untuk memberikan pemahaman tentang ajaran islam. Surau yang telah didirikan ini di dalmnya mempelajari al-qur’an dengan berbagai macam iarama dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Kondisi yang seperti itu membuat suasana semakin memanas dan membagi masyarakat dalam dua kubu. Kubu pertama yang menolak pembaharuan yang dimotori oelh kaum adat yang dibantu colonial Belanda dan kubu yang kedua diwakili oleh pemuka agama (kaum padri)  yag sudah gerah melihat praktik kehidupan yang sudah jauh dari nilai-nilai agama.
Surau sebagai lembaga pendidikan islam mulai surut peranannya karea disebabkan oleh beberapa hal yakni :
1)      Selama perang padre banyak surau yang musnah terbakar dan Syeikh banyak yag meninggal.
2)      Belanda mulai memperkenalkan sekolah nagari.
3)      Kaum intelektual muda muslim mulai mendirikan madrasah sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka terhadap praktik-praktik surau yang penuh dengan khurafat, bid’ah dan takhayul.

2.      Meunasah
Meunasah ini berasal dari bahasa arab yakni Madrasah. Meunasah ini merupakan tingkat pendidikan islam terendah dan merupakan satu bangunan yang terdapat di setiap kampong. Bangunan ini seperti rumah akan tetapi tidak memiliki jendela dan bagian-bagian lain. Meusanah ini berfungsi untuk tempat belajar, berdiskusi membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan serta menjadi tempat bermalam para anak-anak muda dan orang laki-laki yang tidak mempunyai istri. Bsetelah islam mapan di Aceh, Meusanah juga menjadi tempat shalat bagi masyarakat dalam satu kampung. Biasanya Meusanah ini terletak di pinggir jalan.
Pendidikan Meusanah ini dipimpin oleh Teungku Meusanah. Pendidikan untuk anak perempuan diberikan oleh teungku perempuan yang disebut Tengku Inong. Dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak, Teungku Meusanah dibantu oleh beberapa orang muridnya yang lebih cerdas yang disebut sida.
Pengajaran umumnya berlangsung malam hari. Materi pelajaran dimulai dengan membaca al-qur’an yang dalam bahasa Aceh disebut Beut Qaran. Belajar di meusanah tidak dipungut biaya. Dan tengku tidak digaji karena mengajar dianggap ibadah. Namun, biasanya tengku mendapatkan hadiah dari murid-muridnya apabila mereka telah belajar al-qur’an sampai juz 15 atau pada saat khatam al-qur’an.

3.      Pesantren
Menurut asal katanya pesantren itu bersal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat yang artinya tempat para santri. Sedangkan menurut Sudjoko Prasodjo, “pesantren adalah lembaga pedidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal.
Terdapat beberapa karaktersistik pesantren, yakni :
a.       Materi pelajaran dan metode pengajaran
Sebagai lembaga pendidikan islam, pesantren pada dasarnya hanya mengajarkan agama, sedangkan kajian atau mata pelajarannya ialah kitab-kitab dalam bahasa Arab (kitab kuning). Pelajaran agama yang dikaji di pesantren ialah al-qur’an dengan tajwid dan tafsirnya, aqa’d dan ilmu kalam, fikih dan ushul fiqih, hadist dan musthalah hadits, bahasa arab dengan ilmunya, tarikh, mantiq dan tasawuf.
Adapun metode yang lazim digunakan dalam pendidikan pesantren ialah :
1)      Wetonan
2)      Sorogan
3)      Hafalan
b.      Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan dalam pesantren tidak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memakai sistem klasikal. Umumnya, kenaikan tingkat santri ditandai dengan tamat dan bergantinya kitab yang dipelajari. Jadi, jenjang pendidikan tidak ditandai dengan naiknya kelas seperti dalam pendidikan formal, tetapi pada penguasaan kitab-kitab yang telah ditetapkan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
c.       Fungsi pesantren
Pesantren ini di samping berfungsi sebagai lembaga pendidikan juga sebagai lembaga sosial dan penyiaran keagamaan. Jika dilihat dari lembaga pendidikannya, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal  dan non formal. Dan sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, menerima tamu yang datang dari masyarakat umum dengan motif yang berbeda-beda. Sebagai lembaga penyiaran agama islam, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yakni sebagai temat belajar agama dan ibadah bagi para jamaah.
Di samping fungsi di atas pesantren juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam merespon ekspansi politik imperialis Belanda dalam bentuk menolak segala sesuatu yang berbau barat dengan menutup didri dan menaruh sikap curiga terhadap unsur-unsur asing. Dan lebih dari itu, pesantren sebagi tempat mengibarkan semangat jihad untuk mengusir penjajah dari tanah air.
d.      Kehidupan Kiai dan Santri
Berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kiai yang menetap di suatu tempat. Kemudian datanglah santri yng ingin belajar kepadanya dan turut pola bermukim di tempat itu.  Para santri dam masyarakat sekitar selalu bersaha agar dapat dekat dengan kiai untuk memperoleh berkah.
Ciri yang sangat menonjol dalam kehidupan pesantren yakni :
a.       Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kiainya.
b.      Adanya kepatuhan santri kepada kiai.
c.       Hidup hemat dan penuh kesederhanaan.
d.      Kemandirian
e.       Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan.
f.       Kedisplinan.
g.      Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan.
h.      Pemberian ijazah.
Perlu dicatat bahwa ciri-ciri di atas merupakan gambaran sosok pesantren dalam bentuk yang masih murni, yakni pesantren tradisional. Sementara dinamika dan kemajuan zaman telah mendorong terjadinya perubahan terusmenerus pada sebagian besar pesantren. Maka pada akhir-akhir ini akan sulit ditemukan sebuah pesantren yang bercorak tradisional murni. Karena pesantren sekarang telah mengalami transformasi sedemikin rupa sehingga menjadi corak yang berbeda-beda.
4.      Madrasah
Di dalam sejarah dan perkembangannya madrasah di bagi dalam dua periode, yakni :
a.       Periode sebelum kemerdekaan
Madrasah sebagai lembaga pendidikan islam berfungsi menghubungkan system lama dengan system baru dengan jalan mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik yang masih dapat ipertahankan dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu, teknologi dan ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan islam. Oleh karena itu, isi kurikulum madrasah pada umumnya adalah apa yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan islam (surau danpesantren) ditambah dengan beberapa materi pelajaran yang disebut dengan ilmu-ilmu umum.
Terdapat latar belakang pertumbuhan madrasah di Indonesia dapat dikembalikan pada dua situasi yakni :
1)      Gerakan pembaharuan islam di Indonesia
Gerakan  ini muncul pada awal abadke-20 yang dilatar belakangi oleh kesadaran dan semangat yang kompleks sebagaimana diuraikan oleh Karel A Steenbrink dengan mengidentifikasi 4 faktor yang endorong gerakan pembaharuan islam di Indonesia, antara lain :
1)      Keinginan untuk kembali kepada al-qu’an dan hadits.
2)      Semangat nasionalisme dalam melawan penjajah.
3)      Memperkuat basis gerakan sosial, budaya dan politik.
4)      Pembaharuan pendidikan islam di Indonesia.
2)      Respons pendidikan islam terhadap kebijakan pendidikan hindia belanda.
Pertama kali bagsa Belanda datang ke Indonesia hanya untuk berdagang, tetapi karena kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak maka tujuan utama untuk berdagang tadi berubah untuk menguasai wilayah Indonesia dan menanamkan pengaruh di Indonesia sekaligus dengan mengembangkan pahamnya yag terkenal dengan semboyan 3G yakni, Glory (kemenangan dan kekuasaan), Gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia, dan Gospel (upaya salibisasi terhadap umat islam di Indonesia).Dalam menyebarkan misi-misinya itu, Belanda (VOC) mendirikan sekolah-sekolah Kristen.  Dan melalui sekolah-sekolah inilah Belanda menanamkan pengaruhnya di daerah jajahannya.
Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum utuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan secara tradisional-tradisional oleh kalangan islam mendapat tantangan dan saingan berat, terutama secara modern terutama dalam hal kelembagaan, kurikulum, metodologi, saran dan lain-lain. Perkembangan sekolah yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan tumbuhnya ide-ide di kalangan intelektual islam untuk memajukan pendidikan islam. Ide-ide tersebut muncul dari tokoh-tokoh yang pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah atau pendidikan Belanda. Mereka mendirikan lembaga pendidikan baik secara perorangan maupun secara kelompok/organisasi yang dinamakan madrasah atau sekolah. Madrasah-madrasah yang didirikan tersebut antara lain :
·         Madrasah (Adabiyah School). Madrasah ini didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun 1907 di Padang Panjang. Belum cukup satu tahun madrasah ini gagl berkembang dan dipindahkan ke Padang. Pada tahun 1915 madrasah ini mendapat pengakuan dari Belanda dan berubah menjadi Hollands Inlandsche School (HIS).
·         Sekolah agama (madras School). Didirikan oleh Syeikh M. Thaib Umar di Sungayang, Batu Sangkar pada tahun 1910. Madrasah ini pada tahun 1913 terpaksa ditutup dengan alasan kekurangan tempat. Namun pada tahun 1918, Mahmud Yunus mendirikan Diniyah School sebagai kelanjutan dari Madras School. Madrasah diniyah (Diniyah School) didirikan pada tanggal 10 oktober 1915. Yang mana madrasah ini merupakan madrasah sore yang tidak hanya mengajarkan pelajaran agama tetapi juga pelajaran umum.
b.      Periode sesudah kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia tanggal17 agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 januari 1946 dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah keberagaman di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah. Namun, pada perkembangan selanjutnya, madrasah walaupun sudah berada di bawah naungan Departemen Agama tetapi hanya sebatas pembinaan dan pengawasan. Memang pendidikan islam di Indonesia telah berjalan lama dari mempunyai sejarah panjang. Namun, dirasakan pendidikan islam masih tersisih dari system Pendidikan Nasional.[5]





BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Penyebaran agama islam di Indonesia secara perlahan-lahan dan bertahap mulai dari abad ke-7 sampai ke-13. Proses masuknya dan perkembangannya islam di Indonesia dilakukan oleh para pedagang asing yang telah memeluk agama islam. Para pedagang islam itu berasal dari Persia, Gujarat, dan Arab.
Pendidikan Islam di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam di Indonesia. Dalam penyiaran islam pada tahun-tahun permulaan dilakukan oleh pemuka masyarakat yang dikenal dengan sebutan para wali. Pada tahap awal pendidikan islam, pendidikan berlangsung secara informal. Disinilah para Muballigh banyak berperan, yaitu dengan  memberikan contoh teladan dalam sikap hidup mereka sehari-hari. Para Muballigh itu menunjukan akhlaqul karimah, sehingga masyarakat yang menjadi tertarik untuk memeluk agama islam dan mencontoh perilaku mereka
Lembaga pendidikan Islam pada masa awal yakni surau, meunusah, pesantren dan madrasah dengan pengajaran yang masih sederhana.



DAFTAR PUSTAKA

Yatim Badri dan Dedi Supriyadi, 2009. Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: PT Rineka Cipta)
Daulay Haidar Putra, 2004. Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta: Kencana)
Nizar Samsul, 2011. Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenadia Media)
Purnomo Wiwit, Supeno dll, 2004. Pengetahuan Sosial Sejarah,(TIM MGMP IPS SEJARAH, Surabaya)
Zuhairini, 2000, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara)




[1] Wiwit Purnomo, Supeno dll, Pengetahuan Sosial Sejarah,(TIM MGMP IPS SEJARAH, Surabaya, 2004),  hal. 38-39.
[2]  Badri Yatim dan Dedi Supriyadi, sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009) hal 80
[3] Prof.Dr.H.Haidar Putra Daulay,MA, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta: Kencana. 2004) hal 145-146
[4] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000),hal.135

[5] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenadia Media, 2011), hlm 280-295.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar