Blogger Widgets Aini Latifatun Zahro : Makalah Tentang Ahmadiyah

Halaman

Rabu, 07 Januari 2015

Makalah Tentang Ahmadiyah

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah AKIDAH
Description: Description: D:\Download\iain hiTAM PUTIH_1.jpgAHMADIYAH





Dosen                            : Uswatun Hasanah, M.Pd.I
Oleh                     : Kelompok 11
Nama                             : AiniLatifatunZahro
NIM                     : D77213053
Kelas                    : 1 B PGMI



JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2013


I . PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Setelah Rosulullah Wafat, kekhalifahan di gantikan oleh para sahabat Khulafaurrosyidin yakni Abu bakar, Umar Bin Khottob, Utsman Bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Saat masa pemerintahan Ali tidak semua setuju dengan diangkatnya jadi khalifah, maka dari itu timbulnya golongan-golongan pada awalnya adalah Khawarij dan Syi’ah, hal ini yang menimbulkan dorongan timbulnya berbagai aliran dalam islam hingga sekarang, dari beberapa aliran tersebut tumbuh berbagai paham di antaranya adalah Ahmadiyah. Ahmadiyah adalah salah satu paham islam di Indonesia yang sudah tidak asing lagi kita dengar tapi kita tidak mengetahui isi ajaran tersebut, makalah ini akan mengulas semua tentang Ahmadiyah .
B.     Rumusan Maslah
1.      Bagaimana sejarah berdirinya  Ahmadiyah ?
2.      Bagaimana Ajarah dalam Ahmadiyah ?
3.      Bagaimana Perkembangan Ahmadiyah ?
4.      Apakah Sekte – sekte dalam Ahmadiyah ?


II . PEMBAHASAN
A.     Sejarah
Sejak kekalahan turki Usmani dalam menyerang benteng Wina tahun 1683 India menjadi daerah kekuasaan Inggris. Dalam kondisi demikian Intelektual kaum ulama Islam telah tenggelam sampai tingkat yang paling bawah.
Di India, Negeri Hindu paling besar di dunia, namun hidup kaum muslim paling besar di dunia pula, pada tahun 1889 lahir sebuah organisasi dakwah islam yang cukup besar pengaruhnya. Organisasi itu bernama Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani. Arti Ghulam Ahmad adalah Hamba Allah atu Hamba Muhammad. menyusul diterbitkanya buku Barahim Ahmadiyah pada 1880. Sebelum itu pada tahun 1882 dia telah menyatakan dirinya sebagai mujaddid (pembaharu) setelah menyadari bahwa para ulama Islam tidak berdaya dalam menghadapi proses Kristenisasi. Lahirnya Ahmadiyah adalah sebagai protes terhadap keberhasilan kaum Kristen yang memperoleh pengikut-pengikut baru, paham westerinisasi dan protes atas kemerosotan Islam pada umumnya.[1]
            Pendiri Ahmadiyah yaitu Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani lahir di Qadian, India, pada 1835 putra Mirza Ghulam Muttadla bin Haji Barias dari Iran. Famili Ghulam muttadla masih keturunan Haji Barlas dari dinasti Mughal dan oleh karenanya di depan nama keturunan keluarga ini terdapat sebutan mirza.
Tampaknya keluarga mirza pernah menjadi pembantu setia pemerintah colonial Inggris di India dan keduanya punya hubungan erat maka dari itu Mirza Ghulam Ahmad ingin Ahmadiyah mendapat perlindungan secara politis, sehingga ia bebas menyebarkan ide kemahdianya dan dapat mempertahankanya.[2]
B.     Ajaran dan Keyakinan
Mirza Ghulam Ahmad menganggap dirinya seorang mujaddid ( Pembaharu) dan pengikut Nabi Muhammad, meskipun ia juga menerima wahyu kedudukanya tidak sama dengan kedudukan Nabi Muhammad. Mirza berkata : Allah memanggilku nabi hanya berdasarkan kiasan saja, apa yang aku baca merupakan firman Allah SWT seperti halnya Al-Quran dan Taurat. Setiap muslim wajib taat kepadaku dan mengimani bahwa aku adalah Al-Masih yang dijanjikan akan datang barang siapa yang mengetahui dakwahku tetapi ia tidak beriman kepadaku, maka sikapnya itu akan dihisab di akhirat.
            Ia juga berkata bahwa dirinya diberi Sepuluh ribu ayat dari Allah yang membenarkan kenabianya. Para nabi pun telah menentukan zaman kenabianya yaitu Zaman sekarang . selain itu dia juga berkata tidak ada umat nabi muhammad yang diberi gelar Nabi kecuali Dirinya.
Jemaat Muslim Ahmadiyah (Ahmadiyya Muslim Community) adalah satu organisasi keagamaan Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia. Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika,Amerika UtaraAmerika SelatanAsiaAustralia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. Jemaat Ahmadiyah Internasional juga telah menerjemahkan al Quran ke dalam bahasa-bahasa besar di dunia dan sedang merampungkan penerjemahan al Quran ke dalam 100 bahasa di dunia. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah di Indonesia telah menerjemahkan al Quran dalam bahasa IndonesiaSunda, dan Jawa. [3]
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan semenjak tahun 1980 tentang "sesatnya Jema’at Ahmadiyah Qadiyah yang berada di luar Islam", lalu ditegaskan kembali pada fatwa MUI yang dikeluarkan tahun 2005 bahwa "Aliran Ahmadiyah, baik Qodiyani ataupun Lahore, sebagai keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan". Menurut sudut pandang umum umat Islam, ajaran Ahmadiyah (Qadian) dianggap melenceng karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi (Isa al Masih dan Imam Mahdi). Hal ini bertentangan dengan pandangan umum Islam yang mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir,
Perbedaan Ahmadiyah dengan Islam secara umum adalah bahwa Ahmadiyah menganggap bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi telah datang ke dunia seperti yang telah dinubuwwatkan Nabi Muhammad SAW, sedangkan umat Islam pada umumnya mempercayai bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi belum turun ke dunia. Di luar hal tersebut permasalahan lain hanya sebatas perbedaan penafsiran ayat-ayat al Quran saja.
Ahmadiyah sering dikaitkan dengan kitab Tazkirah. Tazkirah ini sebenarnya bukan kitab suci warga Ahmadiyah, melainkan buku berisi kumpulan pengalaman rohani pendiri Jemaat Ahmadiyah, layaknya jurnal[4]
C.     Sekte – sekte
·         Ahmadiyah Qadian
Dibawa oleh muballig Maulana Rahinat Ali HA , pada tahun 1924 dari Departement Da’wat wa Tabligh Pakistan. Lebih dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor)
Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah Qadian sebagai berikut:
1.     Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, laki-laki kelahiran Qadian, India sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman oleh Allah SWT.
2.     Mengimani dan meyakini bahwa kitab Alquran adalah satu-satunya kitab suci.
3.     Mengimani dan meyakini bahwa Mekah dan Madinah tempat suci sebagaimana umat Islam pada umumnya.
4.     Wanita Ahmadiyah dianjurkan menikah dengan laki-laki Ahmadiyah demi menjaga dan meneruskan keturunan rohani, namun laki-laki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita di luar Ahmadiyah.
5.     Percaya bahwa Nabi Isa as. Adalah manusia biasa yang dikandung oleh ibunya secara luar biasa tanpa ayah.
6.     Kaum muslimin ahmadiyah yang tidak percaya pada ajaran ahmadiyah di kafir.
7.     Kaum muslimin ahmadiyah boleh jadi Imam kaum muslimin non ahmadiyah,tapi tidak boleh ,menjadi makmum.
8.     Percaya bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terbesar dan paling mulia tapi bukan Nabi terakhir
Khalifah Ahmadiyah Qadiyan
·        Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam
Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:
1.     Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.
2.     Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.
3.     Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun.
4.     Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat.
5.     Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar.
6.     Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.
7.     Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.
8.     Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.
9.     Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.
10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW[6]
Amir Gerakan Ahmadiyah (AAIIL)
Gerakan Ahmadiyah (Ahmadiyah Movement) atau Ahmadiyah Lahore tidak mengenal khalifah sebagai pemimpin, akan tetapi seorang Amir yang diangkat sebagai pemimpin.

Adapun para Amir tersebut adalah sbb:                           
3.     Maulana Sadrudin
6.     Prof. Dr.Abdul Karim Saeed

III . PENUTUP
A.     Kesimpulan
Ahmadiyah berdiri pada tahun 1889 di India oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadian.
telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia. Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika,Amerika UtaraAmerika SelatanAsiaAustralia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang.
Dalam ajaran Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad menganggap dirinya seorang mujaddid ( Pembaharu) dan pengikut Nabi Muhammad, meskipun ia juga menerima wahyu kedudukanya tidak sama dengan kedudukan Nabi Muhammad. Ahmadiyah menganggap bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi telah datang ke dunia seperti yang telah dinubuwwatkan Nabi Muhammad SAW
Di dalam aliran ahmadiyah ini juga terpecah jadi 2 sekte yaitu Ahmadiyah Lohore yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad bukan seorang nabi tapi seorang mujaddid . dan tidak mengkafirkan orang yang tidak percaya pada Mirza Ghulam Ahmad.
Yang kedua yaitu Ahmadiyah Qadian kebalikan dari Ahmadiyah Lohore .

B.       DAFTAR PUSTAKA
Su’ud, Abu. 2003. Islamologi . Jakarta: PT.Rineka.Cipta
Navis, Abdurrahman dan Idrus Ramli, Muhammad. 2012. Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah.   Surabaya: Khalista
Sya’roni, Imam. 2011. Aswaja 1. Malang: BPLP Madrasah Diniyah Al-Rifa’I
Fathoni, Muslim. 2002. Paham Mahdi Syi’ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif.
      Jakarta: PT. Raja Grafindo
Http://www.wikipwdia.org/Ahmadiyah/





[1] Abu Su’ud, Islamologi.(Jakarta: PT.Rineka CIpta,2003) hal 256
[2] Fathoni Muslim, Paham Mahdi Syiah dan Ahmadiyah dalam Prespektif.(Jakarta: Pt.Raja Grafindo,2002) hal 54
[3] Abdurrahman Nafis, Risalah Ahlussunnah Wal-Jamaah.(Surabaya: Khalista,2012) hal 137-139
[4] Imam sya’roni, Aswaja 1.(Malang: BPLP Madrasah Diniyah Al-Rifa’I,2011) hal 120
[5] Http://www.wikipwdia.org/Ahmadiyah/
[6] Imam sya’roni, Aswaja 1.(Malang: BPLP Madrasah Diniyah Al-Rifa’I,2011) hal 121-123

Tidak ada komentar:

Posting Komentar